Go Ihsan - Oleh:
Ustaz Arifin Ilham
Hidup
di dunia ini sungguh sekejap saja. Sementara, kesempatan mengumpulkan bekal
teramat sebentar. Kita akan hidup selama-lamanya, tidak akan ada akhir lagi,
yaitu kelak nanti di akhirat. Dan, hamba Allah yang beriman pasti akan
menyibukkan diri dengan amal ketaatan supaya di kehidupan nanti mendapatkan kebahagiaan
yang sempurna.
Salah
satu amal ketaatan seorang hamba itu adalah bersemangat dalam menghidupkan
ihyaaus sunnah. Tiada waktu, hari, jam, menit, detik berlalu kecuali bernilai
ibadah, amal saleh, manfaat, dan mencari perbekalan terbaik di akhirat. Karena
itulah, ia hidupkan sunah harian Rasulullah SAW.
Gambaran
indah amal yaumiyah (amal sunah harian Nabi SAW) adalah bermula ketika hendak
tidur.
Ia pasti akan tidur lebih awal karena kerinduannya bangun di tengah
malam. Saat terjaga, ia bersegera membangunkan keluarga dan sahabatnya untuk
menikmati indahnya shalat malam.
Pencinta
amal yaumiyah Nabi SAW pasti tidak akan pernah beranjak dari Tahajud kecuali
setelah membaca istighfar dengan bilangan yang banyak, dilanjutkan tadabur
Alquran. Lalu, dengan hati gembira, ia melangkah dengan kaki diayun untuk
berjamaah Subuh di masjid.
Kemudian,
ia biasakan tidak keluar dari masjid kecuali ikut kajian ilmu dan zikir hingga
waktu shalat sunah Isyraq. Dan, pagi pun menjelang. Ia tidak akan keluar rumah
untuk ikhtiar yang halal kecuali diiringi doa, pamit kepada keluarga dengan
ciuman, lambaian salam dan terjaga selalu wudhunya. Hatinya pun selalu terpaut
zikir kepada Allah SWT.
Dalam
beraktvitas selalu dengan belas kasih, rendah hati, murah senyum, ringan
tangan, penebar salam dan salaman, bersih-wangi bersahaja dengan sesederhana
mungkin penampilannya. Hal ini terbaca dari isyarat mata, tubuh, dan
penampilannya yang tidak sombong. Bicaranya santun dan selalu berbaik sangka
pada setiap takdir-Nya, jauh dari sifat dengki.
Tiba
waktu Zhuhur atau Ashar, maka shalatnya pasti tepat waktu dan berjamaah. Ia
tidak sungkan untuk memulai dan mendatangi serta menjulurkan tangan
silaturahim. Diam-diam hatinya berdoa untuk keluarganya, negerinya,
saudara-saudaranya yang tertindas, seperti di Palestina, Afghanistan, Irak,
Suriah, Mesir, Yaman, Rohingya. Bahkan, terhadap mereka yang berbeda keyakinan,
doa pun dipanjatkannya agar Allah SWT memberi hidayah.
Kepada
siapa pun yang dijumpai, ia selalu ingatkan tentang dahsyatnya kehidupan akhirat
tanpa merasa dirinya paling suci. Dan, puncaknya bermuhasabah diri, sama sekali
tidak tertarik membahas, apalagi mencari aib saudaranya. Inilah amal ringan,
tapi padat penuh makna.
Orang
beriman akan menjadikan tiada waktu yang sia-sia. Fokus dalam ketaatan yang
prima dengan menjaga amal yaumiyah. Semoga Allah SWT terus dan terus membimbing
kita semangat beriman dan beramal saleh hingga wafat dalam keridhaan-Nya.
Aamiin.
Sumber : Republika
Posting Komentar