Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Go Ihsan - Sikap yang harus diperjuangkan oleh seorang Muslim adalah menjauhi dusta atau bohong. Hal ini harus dilakukan oleh seluruh umat Islam, terutama ketika mendapat amanah memegang tampuk kepemimpinan. Sebab beban yang dipikul tidak ringan dan sekali menyimpang, berat memperbaikinya.

Dalam Islam, bohong bukanlah perkara ringan. Konsekuensi yang sangat jelas dan dimensi hukumannya tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat. Kondisi ini sudah semestinya membuat kita memilih untuk menjauhi berperilaku bohong.
Sebuah catatan menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an ada 250 ayat yang membahas tentang dusta. Sedangkan kata bohong dalam Al-Qur’an terdapat pada 25 ayat. Jika ditotal maka bahasan tentang bohong atau dusta di dalam Al-Qur’an ada 284 ayat.
Hal itu menunjukkan bahwa bohong di dalam Islam sama sekali tidak dibenarkan apapun alasannya. Oleh karena itu di dalam Islam seseorang dibimbing untuk tidak banyak berjanji, terlebih jika tidak didasari oleh kalkulasi bahwa apa yang dijanjikan itu dapat diwujudkan atau dibuktikan.
Jika tidak, maka janji-janji itu akan menjadi hutang dan selama tidak dapat dipenuhi kebohongan akan melekat di dalam diri kita.
Dalam konteks keseharian Rasulullah memberikan panduan bahwa akan sangat baik jika seorang Muslim yang memilih berdagang untuk tidak banyak bersumpah di dalam bertransaksi.

Rasulullah ﷺ bersabda;
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِى الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ
“Hati-hatilah dengan banyak bersumpah dalam menjual dagangan karena Ia memang melariskan dagangan namun malah menghapuskan keberkahan.” (HR. Muslim).
Lebih jauh dari itu, Al-Qur’an memberikan pedoman kepada kita:
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (QS. Al-Qalam: 10).
Ayat di atas memberikan arahan kepada kita agar benar-benar mengenal dengan siapa kita bergaul. Jangan sampai orang yang sudah terbukti kebohongannya, dan dilakukan berulang-ulang, masih juga menjadi sahabat dekat kita. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin, tanpa sadar kita pun akan tertular sikap yang mengundang murka Allah tersebut.
Dengan demikian seorang Muslim harus hati-hati dalam menyampaikan ucapan, terlebih janji kepada siapapun. Dan, bagi mereka yang memilih untuk masuk ke dalam kontestasi pemilihan umum, baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden, harus betul-betul mengukur bahwa apa yang dijanjikan saat kampanye itu benar-benar bisa direalisasikan, secara baik dan tepat waktu.
Menghilangkan Kesadaran
Hukuman pertama bagi pembohong adalah hilangnya kesadaran dalam dirinya bahwa kebohongan itu telah menjadi tabiatnya.
Orang yang suka berbohong dan terus-menerus melakukan kebohongan, kemudian hidup nikmat di atas kebohongan. Jika itu diteruskan, maka lambat laun dia akan kehilangan kemanusiaannya. Ia akan lupa pada dirinya bahwa kebohongan itu adalah sifat yang paling dominan di dalam dirinya. Tanpa rasa malu, dia akan hidup dengan penuh kesombongan dan meremehkan orang lain serta menolak kebenaran.
Cecil G. Osborne dalam bukunya “The art of getting along with people” menjabarkan bahwa orang yang terbiasa berbohong tidak akan sadar bahwa ia berbohong.
Dan kerugian seperti apa lagi yang lebih buruk daripada hilangnya kesadaran seseorang akan sikap dan perilakunya yang sesungguhnya banyak merugikan, namun tanpa sadar terus ia lakukan? Ini adalah hukuman sangat buruk atas diri seorang manusia.
Pada akhirnya, orang yang suka berbohong akan membunuh akal pikirannya dan dan mengubur hati nuraninya, sehingga ia tidak hidup melainkan menjadi beban masyarakat, biang kerusakan, dan sumber dari segala kegaduhan.
Lihatlah hari ini bagaimana orang-orang yang enggan bahkan terbukti gagal memenuhi janjinya, sementara mereka terus ingin mendapatkan kekuasaan, maka kebohongan demi kebohongan terus dilakukan demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Mungkin kita bertanya mengapa mereka tidak sadar?
Mereka tidak akan pernah sadar, sebab ketidaksadaran itulah yang hidup di dalam jiwa dan pikirannya, sehingga ia akan terus berbohong. Hanya mereka sendiri yang dapat menghentikan kebohongan itu. Itupun dengan catatan ia kembali kepada Allah, lantas mengakui kesalahannya, bertaubat, kemudian mengubah sikap dan perilakunya.
Tetaplah Jujur, Insya Allah Selamat
Rosulullah ﷺ menekankan kepada kita,
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً. رواه البخاري ومسلم
Hendaklah kalian selalu berlaku jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai Pendusta alias pembohong.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian dapat kita simpulkan, jika memang kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik maka jauhilah kebohongan sebab kebohongan tidak akan mengantarkan melainkan pada kesengsaraan.
Dari sejarah para penguasa yang selama berkuasa banyak menjalankan korupsi, menyakiti rakyatnya dan banyak menindas umat beragama, mereka akhirnya harus berpisah dengan kekuasaan dalam kondisi yang sangat hina lagi mengenaskan.
Sebaliknya mereka yang berlaku jujur, sekalipun harus menghadapi situasi yang sangat buruk, mesti rela mengorbankan jiwa dan raga, pada akhirnya mereka menjadi orang yang berbahagia, tersenyum ridho dan tidak ditemukan kekhawatiran dan ketakutan di dalam kehidupannya. Itulah buah dari kejujuran yang terus diperjuangkan. Wallahu a’lam.(Hidayah)

Go Ihsan - Jagat media sosial nusantara sedang dijejali berita yang menghebohkan. Netizen pun larut dalam pemberitaan prostitusi online yang menyebutkan angka puluhan juta. Bola panas terus menggelinding hingga lelucon-lelucon tidak pantas dipertontonkan demi mengundang gelak tawa dan popularitas.

Permasalahan perzinaaan tentu bukanlah barang baru. Bumi yang telah tua menjadi saksi banyaknya kasus dosa besar yang diharamkan Allah ini. Jika dahulu perzinaan hanya dilakukan oleh segerombol orang saja, sekarang fenomena ini seolah sudah bukan barang tabu.

Bebasnya pergaulan, majunya teknologi dan lemahnya kesadaran bergama membuat virus menjijikkan ini pun merambah masyarakat luas. Jika kita menyempatkan menonton layar kaca, banyak kasus kriminal yang berkaitan dengan perzinaan, perkosaan,kumpul kebo, perselingkuhan, married by accident serta prostitusi yang ditunjang dengan teknologi yang makin tertata rapi. Fenomena merebaknya perzinaan ini merupakan isyarat bahwa dunia terus bergerak menuju kehancuran. Rasulullah melalui sabdanya telah mengabarkan bahwa hal itu termasuk tanda-tanda kiamat.

Tanda Akhir Zaman, Marak Perzinaan
Dari sahabat Anas bin Malik mengatakan pada Qotadah,”Sungguh saya akan mengabarkan pada kalian sebuah hadits yang tidak kalian dengar dari orang-orang sesudahku.
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا ، وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan, merebaknya perzinaan, wanita akan semakin banyak dan pria akan semakin sedikit, sampai-sampai 50 wanita hanya diurus oleh 1 orang laki-laki.”(HR.Bukhari)
Isu global yan tersebar di media sosial membuat masyarakat latah dan mengikuti apa yang sedang trend saat itu. Hal ini membuat orang-orang kehilangan figur dan panutan. Maka, ibarat kapas yang tertiup angin, masyarakat luas akan ikut kemana pun  isu yang dimainkan. Dunia yang menjajakan kenikmatan ditunjang dengan teknologi yang memudahkan membuat hawa nafsu mudah tersalurkan.
Masyarakat tidaklah bodoh dalam hal dunia, uang begitu mudah dihasilkan. Tetapi mereka jauh dari syariat Allah sehingga membuat hawa nafsu menguasai dan merebaklah perzinaan. Karena hawa nafsu manusia tidak akan jauh-jauh dari urusan perut dan kemaluan. Dan dua hal inilah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442).
Perzinaan dulu yang masih tabu diperbincangkan, sekarang justru menjadi bumbu pembicaraan yang digemari orang. Masyarakat seolah sudah menganggapnya hal yang biasa dan sebuah kewajaran. Inilah tanda-tanda kiamat yang dikabarkan Rasulullah dalam haditsnya. Yang lebih dahsyat selain dari menganggap zina adalah kewajaran adalah menganggapnya suatu hal yang halal. Karena seringnya dibicarakan, dijadikan bahan lelucon dan candaan, tidak mustahil jika anggapan bahwa zina itu halal akan terjadi.
Dari Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ.
Akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina dan sutera.”(HR.Bukhari)
Dari awal karena dorongan nafsu dan berproses menjadi berubahnya hukum zina karena terlalu sering dianggap remeh. Itulah yang terjadi saat ini, maka tak aneh ada sebagian orang tua yang justru bangga jika anak gadisnya didatangi lelaki asing diajak untuk berzina. Pola pikir seperti ini sudah jamak kita temui, dan biasanya bermula dari berpacaran hingga berujung pada perzinaan. Merebaklah perzinaan berawal dari pacaran, zina yang dulu diperjualbelikan sekarang merebak dengan dalih suka sama suka dan pergaulan bebas.
Endingnya adalah ketika zina telah dianggap hal yang biasa dan wajar, maka melakukan perbuatan menjijikkan ini bisa dilakukan dimanapun dan bahkan di pinggir jalan. Ketika manusia sudah mencapai taraf ini berarti memang dunia akan segera hancur sebagaimana sabda Nabi
Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لاَ تَفْنَى هَذِهِ اْلأُمَّةُ حَتَّى يَقُوْمَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ، فَيَفْتَرِشُهَا فِي الطَّرِيْقِ، فَيَكُوْنَ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ يَقُوْلُ: لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ!
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ‘Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’” (HR. Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” Lihat Majmu’ Zawaid: 7/331)
Ditambah lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ
Dan ingatlah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.” (HR. Muslim)
Jika kita melihat hadits di atas secara zahir bahwa saat itu umat manusia benar-benar mengalami degradasi moral. Perzinaan bebas dilakukan dimana saja dan  dengan siapa saja. Hubungan suami istri yang  bernilai ibadah dalam Islam berubah menjadi komoditas bisnis dan untuk memuaskan nafsu birahi semata. Sekali lagi, ketika itu terjadi dunia akan kiamat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah.
Merebaknya perzinaan di zaman ini tentu merupakan isyarat akan dekatnya hari kiamat. Proses itu akan terus berjalan hingga mencapai ending yang telah dijelaskan di atas. Manusia akan mencapai jurang terendah dalam moralitas dan bersiap-siap menuju kehancuran. Wallahu a’lam bi shawab.
Penulis: Dhani El_Ashim (sumber: Kiblat)

Go Ihsan - أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.Al-Ankabut:2)

Sebuah ayat yang tentu sudah masyhur di antara kaum muslimin. Ayat ini masyhur karena berkenaan dengan keniscayaan sebagai orang yang telah mengikrarkan keimanan maka pasti akan memperoleh ujian atas keputusannya.

Di dalam Tafsir Al-Qurtubi, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa ayat ini turun ketika kaum muslimin Makkah yang masih sedikit dan lemah mendapatkan intimidasi dari kafir Quraisy. Penyiksaan, ancaman bahkan sampai tertumpahnya darah dan hilangnya nyawa menjadi konsekuensi atas keimanan para sahabat Rasulullah yang mulia. Pun dalam tafsir Jalalain juga disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik.

Namun, ayat ini turun tidak hanya berlaku untuk mereka. Sebab, kata an-nâsmemberikan makna umum yang berarti meliputi seluruh manusia. Ayat ini juga memberitakan bahwa ujian keimanan merupakan sunnatullah dan berlaku di setiap masa.



Fenomena Hijrah

Telah dijelaskan bahwa ayat tentang ujian setelah beriman berlaku untuk siapa saja yang telah mengikrarkan keimanan. Disebutkan pula di dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan pelakunya. Nabi saw bersabda:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian berikutnya dan berikutnya. Seseorang dicoba sesuai dengan (kadar) agamanya. Ketika dia tetap tegar, maka ditingkatkan cobaannya (HR al-Tirmidzi).

Jadi, bisa dipastikan saat ini kita menjalani ujian keimanan masing-masing yang berbeda kadarnya sesuai dengan tingkatan keimanan. Dewasa ini, fenomena hijrahnya seorang yang dulunya jauh dari Islam dan kembali ke jalan yang lurus ibarat bunga yang mekar di musim semi. Kita temui di media sosial dan kehidupan nyata banyaknya orang-orang yang telah sadar akan hakikatnya kehidupan.

Awal kehidupannya yang dulunya bergelimang dunia ternyata tidak memberikan kepuasan batin dan justru malah semakin haus dan dahaga. Dunia memang tidak akan ada habisnya jika selalu dikejar dan akan melalaikan manusia dari kehidupan sebenarnya di akhirat sana. Hidayah Allah pun tiba, hatinya terketuk untuk kembali pada-Nya dan duduk bersimpuh di hadapan Sang Pencipta. Fenomena yang menggembirakan  jika kita melihat saudara-saudara kita seiman kembali tersadar akan pentingnya hidup beragama.

Begitu pula di kalangan aktivis, dulunya yang jauh dari nilai-nilai agama dalam bertingkah laku berubah drastis menjadi pejuang di dalam dakwah dan jihad. Perubahan yang sangat menggembirakan dan melegakan hati kaum muslimin.

Namun, perlu diingat bahwa hijrahnya seeorang kembali pada jalan Allah juga akan diikuti rentetan ujian yang bermacam-macam bentuknya sesuai dengan kadar keimanan. Siklus inilah yang perlu diwaspadai agar seseorang tetap istiqomah di dalam hijrahnya menuju jalan Allah yang haq.

Ketika Ujian Keimanan Tiba

Terkadang seseorang mencari jalan lain di kehidupannya karena adanya rasa jenuh yang memenuhi diri. Harta dan dunia yang ia kira mampu memberikan segalanya ternyata hampa dan akan ditinggal ketika nyawa telah terpisah dari raga. Maka, pada saat itulah hidayah datang dan menuntunnya pada kenikmatan iman.

Akan tetapi, sekali lagi ujian itu akan datang bertubi-tubi. Tidak sedikit yang bergelimpangan tatkala cobaan itu datang. Ketika niatnya hijrah dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam hanya karena lari dari kebosanan, tak heran jika ia kembali berbalik ke kehidupan awal. Atau karena kurangnya rasa tawakal pada Allah,maka iming-iming dunia akan membabat habis keimanan di hatinya.

Banyak orang yang tidak siap dengan ujian keimanan ini. Ia mengira ketika ia telah kembali di jalan Allah, maka kehidupan akan berjalan begitu saja. Atau kehidupannya akan tetiba makmur dan bergelimang harta. Rasa nyaman, rasa tenang dan rasa bahagia dalam hidup itu akan didapat seorang muslim jika ia telah mampu mengalahkan ujian-ujian yang datang dan berharap pada janji Allah yang nyata. Rasa harap dan mengharap keridhaan-Nya inilah yang akan membuat hatinya tenang walau kehidupannya bertambah sempit, dicerca, diusir setelah ia berniat hijrah dari kejahiliyahan. Orang yang berpandangan salah dalam hal ini, silakan bersiap-siap menjadikan proses hijrah hanya menjadi batu loncatan semata.

Bagi seorang aktivis dakwah, poin ini memegang peranan penting dalam keberlangsungan aktivitasnya dalam perjuangan. Tidak semua aktivis menemukan jalan hijrahnya sedari kecil dan terdidik secara formal. Berangkat dari background kehidupan yang bermacam-macam menuju satu tujuan, yaitu mengharap keridhaan Allah dalam dakwah dan jihad.

Ujian pun akan menimpa para aktivis ini. Justru akan lebih berat karena mereka adalah orang-orang yang bersinggungan dengan dakwah secara langsung. Godaan dunia akan lebih menerjang lebih dahsyat di saat kemiskinan menimpa dan kebutuhan hidup terus bertambah. Ujian kedudukan juga akan menghadang ketika hidup bercampur dengan masyarakat yang majemuk. Tentu hal ini harus segera disadari agar para aktivis mampu menghadapinya hingga pertolongan Allah datang menghampiri.

Satu hal yang tak kalah penting adalah soal hijrahnya seorang aktivis yang kurang totalitas atau kaafah. Memang secara zahir ia tampak sebagai seorang aktivis, tetapi rasa bosan yang rasakan ketika meninggalkan kemaksiatan berubah menjadi rasa penasaran. Mulailah ia bernostalgia dengan kemaksiatan yang telah lampau, beranggapan itu hanyalah selingan dan tidak akan mengubah keimanannya secara signifikan, berbeda dengan aktivis yang diuji dengan cobaan yang berat dan terlihat oleh kasat mata perubahannya.

Kembalinya rasa penasaran akan masa lalu itu terjadi karena kurangnya tazkiyatun nafs dalam hatinya. Imbasnya cukup besar jika hal seperti ini diteruskan dan tidak sadar bahwa itu perbuatan yang salah karena dianggap hanya selingan. Perbuatan maksiat walaupun sekecil apapun akan berdampak pada seorang muslim apalagi aktivis. Bisa jadi, proses perjalanan dakwah sering buntu karena adanya kasus seperti ini. Proses hijrah yang belum totalitas sehingga masih sering mencuri-curi kesempatan untuk menengok kejahilayahan. Naudzubillah min dzalik.

Maka dari itu, bagi para pejuang di jalan dakwah, hal ini patut menjadi bagian dari kehidupan yang perlu diberi perhatian khusus. Mungkin bagi khalayak ramai sudah terbiasa melihat di layar kaca orang-orang yang bolak balik hijrah. Namun, bagi seorang aktivis ini adalah prinsip dasar yang harus dipegang teguh. Ketika telah berazam hidup di jalan perjuangan, haruslah tetap konsekuen dengan pilihan hingga Allah memanggil. Hijrah yang totalitas, hijrah yang kaafah hanya mengharap balasan dari-Nya semata. Wallahu a’lam bi shawab.
Penulis: Dhani El_Ashim
Sumber: Kiblat

Go Ihsan -  Belakangan sebutan hijrah kian ramai menjadi perbincangan kalangan milenial. Kampanye gerakan hijrah marak kita temui di segala akun media sosial. Terlebih setelah berlangsungnya event Hijrah Festival 2018 di JCC Senayan, Jakarta, kemaren yang dinilai cukup berhasil mengundang puluhan ribu pengunjung.

Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak umat Islam, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Sebuah gerakan positif yang patut mendapatkan apresiasi. Terlebih ketika gerakan ini lahir di tengah upaya pihak tertentu menjuhkan generasi muda dari ajaran agama.

Meningkatnya minat kalangan muda untuk mengetahui tentang hijrah, tentu harus dikawal dengan petunjuk ilmu yang benar. Sehingga hakikat hijrah ini tidak dipahami dengan salah. Sebab, ada semacam fenomena dimana aktivitas hijrah dipahami hanya sebagai gaya semata atau hanya menjadi tren sesaat saja. Maka tidak heran bila kemudian kita pernah mendengar ada sosok yang sudah menyatakan dirinya berhijrah, tapi yang berubah hanya penampilan luarnya saja. Sementara akhlak dan perilakunya masih tetap saja jauh dari nilai-nilai Islam.


Bahkan di sudut yang lain, ada juga yang mengubah perilakunya secara total, namun tidak didasari dengan niat dan ilmu yang mapan. Semua dilakukan karena tren yang sedang berkembang saja. Akhirnya dengan berlalunya waktu, semangat untuk bertahan dalam kebaikan pun runtuh. Pelan-pelan perilakunya berubah kembali kepada kebiasaan buruknya yang dulu. Tentu kita tidak ingin fenomena seperti ini terjadi dalam diri atau orang yang ada di sekitar kita.

Karena itu, siapapun hendak memutuskan untuk berhijrah atau yang sudah berada di atas jalan hijrah, maka tidak hanya dituntut memperbaiki niat saja. Agar bisa istiqamah di atas jalan tersebut, ia juga mesti memahami apa itu hakikat hijrah dan bagaimana indikator keberhasilannya dalam berhijrah.

Indikator Keberhasilan Hijrah

Bila kita membaca kembali hikmah dibalik perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka kita akan mendapati beragam hikmah dalam aktivitas hijrah ini. Salah satunya adalah bagaimana keberhasilan hijrah yang mereka tempuh. Setidaknya ada empat indikator utama keberhasilan hijrah yang patut kita pahami bersama, yaitu:

Pertama: Ada Ketenangan Jiwa saat Mendekatkan Diri kepada Allah

Hadirnya ketenangan jiwa menjadi anugerah pertama yang diperoleh di jalan hijrah. Artinya ketika sudah berada di jalan hijrah namun ketenangan dalam menjalankan ketaatan belum muncul maka ada yang perlu dipertanyakan dengan kesungguhan seseorang dalam berhijrah. Ketaatan ini menjadi indikator utama keberhasilan hijrah seseorang. Sebab, dalam Al-Qur’an telah menjajikan dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُهاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُراغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهاجِراً إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. An-Nisa: 100)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak para ulama—diantaranya Qotadah—yang menjelaskan bahwa maksud ayat, “niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak,” adalah menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan. (Tasir Ibnu Katsir, 2/393)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan janji Allah bagi orang-orang yang berhijrah dengan dimudahkan jalan hidupnya dan ditanamkan ketenangan dalam jiwanya. (Tafsir Al-Manar, 5/293)

Maknanya, janji berupa dilimpahkan rezeki yang banyak dalam ayat tersebut tidak melulu dimaknai sebagai rizki yang bersifat materi, akan tetapi termasuk juga di dalamnya rezeki yang bersifat maknawi dan rohani. Seseorang yang dulunya, terasa sempit hidupnya karena tidak bisa menjalankan ibadah dan akidahnya, akan tetapi setelah melakukan hijrah ia mendapatkan ketenangan hidup dan bisa mempraktikan dan menjalankan keyakinan agamanya.

Perhatikan kisah Nabi SAW dan para sahabatnya ketika berhijrah ke kota Madinah. Bila dilihat dari segi materi, mereka sama sekali tidak dikaruniakan kelapangan rezki berupa rumah yang mewah, harta yang melimpah dan sebagainya. Tapi justru yang mereka rasakan adalah adanya keluasan rezki berupa rasa ketenangan di dalam jiwa saat beribadah kepada Allah. Mereka lebih leluasa dalam menjalankan perintah Allah.

Demikian juga bila kita melihat kisah para muhajirin sebelumnya, yaitu tepatnya dalam kisah Ashabul Kahfi. Ketika mereka memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan kenyamanan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah, justru yang pertama kali Allah ta’ala perintahkan adalah masuk ke dalam gua dan meninggalkan seluruh harta kekayaan duniawi mereka.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16)

Satu hal yang cukup menarik adalah ketika mereka berani meninggalkan itu semua dan menuruti perintah untuk masuk dalam gua, justru di situ Allah Ta’ala gantikan semua yang mereka tinggalkan dengan limpahan rahmat-Nya berupa ketenangan hidup walaupun di tempat yang cukup sempit.

Kedua: Meningkatnya Kualitas Amal

Indikator keberhasilan hijrah berikutnya adalah adanya peningkatan amal ibadah dalam hidupnya. Perjalanan hidup para sahabat menjadi contoh nyata dalam hal ini. Ketika para sahabat berada di kota Mekah, mereka tidak bisa bebas megerjakan ibadah. Tekanan dan ancaman yang dialami cukup luar biasa. Tidak hanya psikis, namun ancaman terhadap fisik biasa mereka rasakan. Sehingga aktifitas ibadah pun terbatas pada kemampuan mereka.

Maka ketika mereka berhijrah dan sampai di kota Madinah, hal yang pertama sekali menjadi perhatian Rasulullah SAW adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah kaum muslimin. Dari situ segala amal ibadah bebas mereka kerjakan. Peningkatan ibadah terjadi luar biasa dalam hidup mereka. Karena itu, salah satu tanda keberhasilan hijrah bukan hanya berupah tampilannya saja. Tapi juga berubah dalam tingkatan amal ibadahnya. Selalu bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam Risalah Tabukiyah, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa hijrah yang hukumnya wajib ‘ain adalah menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad, namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah.” (QS. Adz-Dzariyaat: 50)

Ketiga: Berazam Meninggalkan Aktivitas Buruk

Sebagaimana makna hijrah itu sendiri, berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari maksiat menuju ketaatan, dari kebiasaan buruk berganti menjadi kebiasaan yang baik. Karena itu, salah satu indikasi berhasilnya hijrah adalah ketika ia siap meninggalkan segala aktivitas yang menungdang kemurkaan Allah. Sehingga dalam salah satu riwayat, Rasullullah SAW menjelaskan:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah,” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka hijrah tidak senantiasa dimaknai dengan perpindahan tempat atau berubahnya penampilan. Namun juga perpindahan secara batin. Berpindah untuk selalu mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan berusaha menjadi yang lebih baik.

Keempat: Lahirnya Ketundukan Hati Terhadap Syariat Allah

Hijrah merupakan amalan yang cukup berat. Orang yang menempuhnya akan dianggap asing di tengah-tengah keramaian manusia. Ia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan syariat Allah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan. Sebab, demikianlah sejatinya orang mukmin. Siap tunduk dengan segala ketetapan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

Dengan demikian seorang muslim yang hendak berhijrah kepada Allah, maka ia tidak pernah muncul keraguan untuk mengembalikan segala persoalan hidupnya sesuai dengan ketetapan syariat Allah. Dia rela meninggalkan pendapat kebanyakan manusia bilamana menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Meskipun pada akhirnya ia dikucilkan oleh manusia. Dan terhadap orang-orang seperti, Allah Ta’ala janjikan dalam surah at-Taubah: 20 berupa pahala dan derajat yang tinggi di sisi-Nya:

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS At-Taubah: 20)

Oleh: Penulis: Fakhruddin
Sumber : Kiblat

Go Ihsan - Sebuah even pengajian anak muda digelar di Jakarta selama tiga hari, 9 – 11 November. Dimotori para artis yang kenal telah “hijrah”, even ini memberi pesan bagi kawula muda: Islam adalah life style yang paling cool dan asik.

Satu sore di akhir 1997 dihelat satu acara musik bergenre underground di ibu kota. Satu radio anak muda Jakarta, hampir seharian, berulang-ulang mengumumkan acara yang digelar di Poster Cafe, Jakarta Pusat itu.

Di masa itu, aliran musik british pop, punk, rap, ska, metal, hard core yang sebenarnya tidak populer tengah jadi tren bahasan di media massa mainstream anak muda. Di majalah-majalah dan radio semisal Prambors dan Mustang.

Aliran dan komunitas ini dipandang sebagai alternatif yang anti-mainstream bagi kawula muda yang belum lama lepas dari sajian hiburan satu arah dari TVRI dan RRI.


Warnanya yang beda, nyentrik, aneh, baru, dan rebellious menjadi magnet bagi kawula muda.
Bisa menghadiri acara-acara komunitas underground kala itu, artinya masuk ke dunia pergaulan anak muda ibu kota.

Kembali acara musik di atas. Di tengah serunya pertunjukan, tiba-tiba seorang MC mengambil microphone dan menghentikan acara.

“Kita break (waktu shalat) magrib dulu. Nanti acara kita sambung lagi,” katanya singkat.
Bagi penulis yang pertama kali hadir di gigs komunitas gaul “bawah tanah”, break magrib itu cukup mengagetkan.

Di tengah kerasnya musik, riuhnya pogo dan moshing – istilah gaulnya joget – ternyata adzan magrib masih dihormati.

Penulis lupa apakah juga ada break Isya di acara itu.

Yang jelas, selama hampir satu dekade penulis hadir di berbagai acara hiburan – baik yang mainstream hingga yang underground, break adzan salat adalah hal yang lumrah. Bahkan di acara metal yang kerap menampilkan aksi minum darah ayam atau kelinci sekali pun.

Hijra Fest 2018

Tapi kini, adzan shalat tak lagi sekedar sebagai break dari suatu acara besar. Shalat malah menjadi salah satu acara utama di satu even yang di helat di Jakarta Convention Center (JCC) pada 9 hingga 11 November 2018.

Even itu bernama Hijra Fest 2018. Acara pengajian ala anak muda ibu kota yang dibarengi pameran produk halal, fashion, hingga program sosial hapus tato gratis. Di event ini, waktu adzan sudah diumumkan 10 menit sebelum waktu salat supaya pengunjung bersiap.

Jika ada stan pameran yang berjualan di waktu shalat, stan tersebut akan dilarang berjualan keesokan harinnya.


Hal tersebut seolah tidak pernah terbayangkan bisa terlesenggara di acara anak muda Jakarta. Terlebih diadakan di JCC yang lebih dikenal sebagai tempat konser-konser musik artis luar negeri dan pameran perusahaan-perusahaan bergengsi.

Salah satu penggagas event tersebut adalah Arie Untung, seorang MC dan pembawa acara televisi yang cukup beken di kalangan anak muda.

Kata Arie, even tersebut digagas oleh artis-artis dan para pekerja seni yang sudah mulai hijrah. Dalam artian mulai mendalami dan menjalankan ajaran Islam.

Walaupun dimotori artis-artis, even ini menggaet para ustadz dan dai kenamaan semisal Ustad Abdullah Gymanstiar (AA Gym) dan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN). Juga para ustad muda yang punya jutaan followers di media sosial semisal Ustad Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat, Ustad Hanan Attaki, Felix Siaw, dan lainnya.

Kata Arie, anak-anak muda sangat cinta dunia. Sebab itu dia ingin mengenalkan keindahan Islam dengan gaya anak muda.

“Gayanya asik, life stylenya keren, tempatnya cool,” kata Arie di sela-sela acara Hijra Fest.
Ternyata animo masyarakat juga tinggi. Tiket seharga Rp. 80 ribu per orang selalu sold out. Padahal penyelenggara telah menyediakan 5000 tiket setiap harinya.

“Ternyata bisa lo membuat acara Islami dengan animo sebesar ini,” kata Arie.
Arie mengatakan, dengan banyaknya artis dan public figure di Hijra Fest akan memberi pesan jangan malu-malu mendekat ke Islam.

Arie membeberkan, Hijra Fest 2018 menawarkan berbagai menu: kajian para ustad ternama, sajian lebih dari 200 booth industri muslim, program hapus tato, hingga pusat informasi komunitas hijrah.

“Anak muda yang ingin hjirah tetapi sendirian, kita kasih info lokasi dan kontak komunitas yang bisa dia ikuti,” jelas Arie.

Disinggung soal motivasi anak-anak muda yang datang karena faktor artis idola, Arie tidak menampik hal itu.

Menurutnya hidayah bisa datang dari berbagai jalan. Katanya, bisa jadi awalnya niat karena idola dan ikut-ikutan. “Mana tahu bisa jadi keterusan. Apapun niatnya, kita welcome.”

Salah seorang pengunjung pemuda berusia 23 bernama Miftahul Khair datang dari Bekasi. Dia tidak keberatan dengan harga Rp. 80 ribu untuk tiket masuk acara festival pengajian.

Malah dia berharap acara pengajian seperti Hijra Fest bisa lebih banyak diadakan. “Harapannya bisa lebih banyak dan sering ada acara begini.”

Gagalnya paham liberal

Bagi penulis, besarnya animo anak muda hadir di Hijra Fest sebagai pertanda “gagalnya” penyebaran paham liberal di kalangan anak muda. Khususnya di Indonesia.

Bagaimana tidak? Anak-anak muda, para seniman, penyanyi, anak band, clubbers yang lekat dengan kebebasan, gaya hidup hedonis, ternyata mau mulai taat ajaran agama.
Padahal selama ini kalangan liberal lah yang selama ini memberikan pandangan bahwa dosa dan halal-haram adalah relatif.

Kalangan liberal lah yang selama menyebarkan kepada ummat keraguan atas haramnya khamr, haramnya zina, haramnya LGBT, haramnya tato, haramnya nikah beda agama, dlsb.
Ternyata selama ini anak-anak muda, artis dan seleb tidak butuh legalisasi atas berbagai maksiat yang mereka lakukan.

Apa yang Allah haramkan, juga mereka pandang haram walau mereka belum bisa tinggalkan.
Apa yang Allah wajibkan, juga mereka pandang wajib walau belum sepenuhnya bisa mereka kerjakan.

Sama seperti yang telah lama hijrah, yang mereka dan kita perlukan adalah hidayah dan taufik dari Allah untuk istiqamah dalam agama ini. *

Oleh: Surya Fachrizal
Sumber:Hidayatullah

Go Ihsan -Angka seks bebas di kalangan remaja sudah sangat mengkhawatirkan. 50 persen dari 474 remaja yang dijadikan sample penelitian, ternyata mengaku telah melakukan hubungan seks tanpa nikah. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata 40 persen di antara pelaku hubungan seks tersebut pertama kali justru dilakukan di rumah sendiri.

Kenyataan ini benar-benar membuat miris semua kalangan yang masih peduli terhadap generasi bangsa ini. Bayangkan saja, mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam. Jadi, prosentase di atas menunjukkan bahwa pelaku seks bebas di kalangan remaja, juga pastilah mayoritas umat Islam. Padahal kita tahu bahwa menurut ajaran Islam, seks bebas atau berzina adalah salah satu dosa besar yang sulit diampuni kecuali dengan taubatan nasuha. Zina inilah salah satu dosa besar, ‘pengundang’ azab Allah ketika dibiarkan merajalela.


Bila dirunut, maraknya video porno dan tayangan-tayangan vulgar dalam berbagai bentuknya adalah pemicu terbesar perilaku seks bebas di kalangan remaja. Bahkan tak jarang, adik-adik usia SD sudah ada yang berusaha coba-coba melakukannya setelah menonton video porno ini. Bayangkan, usia kanak-kanak yang seharusnya dipenuhi dengan dunia canda-tawa, permainan dan keluguan serta kepolosan harus teracuni oleh tayangan-tayangan mesum. Jadilah otak generasi yang sangat muda ini penuh dengan sampah kemaksiatan bernama pornografi dan pornoaksi.

Lalu, apa langkah yang seharusnya dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini? Hukum positif yang berlaku di Indonesia tak bisa menjerat mereka yang melakukan perzinaan atas dasar suka. Tak ada pasal yang bisa digunakan, itu dalih banyak pakar hukum sekuler negeri ini. Seperti kita tahu bahwa hukum di Indonesia mayoritas adalah warisan penjajah Belanda. Jangan pernah berharap ada penyelesaian hukum yang tepat ketika akal manusia yang dijadikan patokan untuk memutuskan sesuatu.

Tak adanya payung hukum yang bisa melindungi generasi muda, bukan berarti kita pasrah tak berdaya. Banyak cara untuk menangkal agar serangan tontonan mesum ini tidak merusak moral anak negeri. Salah satunya dan yang merupakan pondasi awal adalah menanamkan adanya keimanan dalam diri setiap individu. Keimanan inilah yang akan menjaga diri seseorang untuk malu melakukan dosa. Bila tak ada lagi control negara yang bisa mencegah perilaku amoral semacam ini dengan alasan kebebasan HAM, maka paling tidak kita mulai dari diri sendiri, keluarga, teman dan lingkungan sekitar.

Gerak serentak dan kontinyu berupa penyadaran umat ini tak bisa dilakukan sendirian. Harus ada kelompok dakwah yang juga fokus untuk melakukan penyadaran ini. Bukan sekadar tentang penyadaran bahayanya seks bebas di kalangan remaja saja, tapi lebih ke penyadaran menyeluruh tentang efek negatif ditinggalkannya hukum Islam. Karena sungguh, kerusakan akibat tidak diterapkannya syariah Islam membawa dampak yang tidak kecil bagi bumi dan seisinya. Salah satunya bisa kita lihat pada maraknya tayangan video porno, media massa mesum, dan seks bebas di kalangan generasi muda.

Bila hal ini tidak segera ditangani sesegera mungkin, maka bisa diprediksi bagaimana bentuk negeri ini sepuluh tahun ke depan. Generasi muda yang notabene bakal menjadi penerus pemimpin bangsa, akan menduduki jabatan penting dengan moral bejat dan otak penuh dengan kemesuman. Hukum yang dihasilkan pun, jangan ditanya lagi ketika jajaran pemimpin masa depan diambil alih oleh sosok ngeres seperti itu.

Karenanya, sudah bukan saatnya lagi kita berdiam diri. Saatnya bergerak dan berjuang untuk menyadarkan umat bahwa ada yang salah dengan sistem yang berlaku saat ini. Kasus video porno artis adalah salah satu dari puncak gunung es dari masalah yang ada. Bila tak segera ada perubahan berarti pada diri dan negeri, maka tinggal tunggu saja masalah demi masalah akan muncul menjadi juru tegur. Dan hanya manusia bebal saja yang tak bisa belajar dari setiap teguran yang muncul.

Kita tak ingin teguran Allah hadir dengan ‘nada’ yang keras berupa azab bagi negeri. Kita juga tak ingin menjadi bangsa yang terkenal karena prestasi pornografi dan pornoaksinya, padahal jumlah umat Islamnya mayoritas. Kita bahkan tak ingin menjadi umat yang tak mempunyai harga diri hanya karena bingung menentukan jati diri.

Syariah Islam adalah pembatas dari semua hal buruk itu. Syariah Islam bukan hanya berfungsi mengobati ‘penyakit’ parah pada negeri ini tapi juga menjadi pencegah bagi munculnya masalah-masalah di kemudian hari. Syariah Islam tak bisa diterapkan tanpa adanya institusi pelaksanaannya yaitu Khilafah Islamiyah. Jangan bermimpi berharap pada demokrasi untuk mencari solusi. Karena sesungguhnya demokrasi itulah malah penyebab dari munculnya masalah demi masalah yang ada.

So, tinggalkan demokrasi dan ambil Islam saja sebagai aturan hidup kita. Dijamin fenomena video porno yang lagi marak saat ini tak ada tempat karena tiap individu dilingkupi keimanan dan hukum pun tegas ditegakkan. Insya Allah. [riafariana/voa-islam]

Go Ihsan - Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim, terutama saat dihadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala perbendaraannya, apakah itu kekuasaan, harta kedudukan, dan segala fasilitas lainnya.

Karena itu, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan seorang mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Apalagi seorang yang menyandang predikat (gelar) da’i. Jika orang banyak mengatakan dia ‘sama saja’, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang di dakwahinya. Dakwah layu sebelum berkembang. Karena itu, stiap mukmin , terutama para da’i, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya.
Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna adalah mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris al-Khaulani bekata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Ibnu Khafif berkata, “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti”.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap apa yang di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. (HR.Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Dalam generasi salaf dan tabi’in ada mutiara-mutiara yang indah dan cemerlang, yang menghiasi peradaban Islam, bukan peradaban materialisme. Betapapun mereka orang-orang yang memiliki kesempatan mereguknya. Tetapi, tak juga melakukan untuk mereguk kenikmatan itu.
Seperti kisah, Muhammad bin Waasi’ Al-Azdi, yang mendapatkan julukan guru orang-orang zuhud di zamannya. Ia hidup dizamannya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat itu di mana Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus, dan menjadi wali di Khurasan yang kuat, bergerak dengan sangat bersama dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribuorang, ditambah lagi dengan para sukarelawan dari mereka yang ingin mencaria syahadah dan mencari pahala.
Pasukan Islam yang dipimpin Yazid bin Muhallab ingin menaklukkan daerah Jurjan dan Thabaristan. Di barisan depan ada generasi tabi’in utama, bernama Muhammad bin Waasi’ dari Basrah yang dikenal dengan ‘Zainul Fuqaha’ (hiasan para ahli fikih), dan sering dipanggil Abid Basrah dan merupakan murid dari shahabat Anas bin Malik al-Anshari, pembantu Rasululah Shallahu Alaihi Wa Sallam.
Meski tubuhnya nampak kurus dan usianya yang sudah lanjut, Muhammad bin Waasi’, memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan Islam merasa terhibur dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah, dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut dan menjadi tenang karena do’anya yang mustajab bila mendapati kesulitan. Bila panglima perang menyeru, maka Muhammad Waasi’ menyeru, “Wahai pasukan Allah, menjulah!”, sebanyak tiga kali. Begitu mendengar suaranya, segenap prajurit pasukan Islam itu siap berperang menghadap musuh dengan penuh keberanian.
Ketika berlangsung peperangan yang amat dahsyat, terdapat seorang prajurit musuh, yang sangat tinggi dan kekar. Perang tanding satu lawan satu, antara pasukan Islam dengan pasukan musyrikin. Diantara pasukan musuh memiliki prajurit berbadan tinggi besar dan kekar, dan menantang Muhammad Waasi’ untuk berperang dengannya.
Keduanya berperang seperti seekor singa yang kalap. Yazid bin Muhallab, merasa sangat kagum melihat pertempuran yang dahsyat itu. Kilatan pedang dan senjata, yang bertubi-tubi. Muhallab bertanya, “Alangkah hebatnya. Siapakah dia?”. Orang-orang menjawabnya, “Dia adalah orang yang mendapat berkat doa dari Muhammad bin Waasi’”, ucap mereka.
Pertempuran yang sangat dahsyat itu disudahi dengan kemenangan pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muhallab. Kemudian, raja kaum musyrikin itu, menawarkan perdamaian kepada kaum muslmin, dan akan menyerahkan seluruh kekayaan negerinya asalkabn keluarga dan hartanya aman. Tawaran itu disetujui Yazid. Mereka harus membayar sebesar 700.000 dirham, menyerahkan 400 ekor unta bermuatan za’faran (kunyit), dan 400 orang yang setiap orangnya membawa satu gelak perak, memakai topi dari sutera dan beludru dan megnenakan mantel seperti yang dikenakan isteri-isteri prajurit mereka.
Perangpun usai, Yazid bin Muhallab berkata kepada bendaharanya, “Sisihkan sebagian ghanimah itu untuk kita. Berikan sebagai imbalan jasa kepada yang berhak”, tukasnya. Diantara ghanimah itu ditemukan pula oleh kaum muslimin sebuah mahkota terbuat dari emas murni bertatahkan intan permata beraneka warna dalam ukiran yang indah dipandang mata. Lalu, Yazid mengacungkan tinggi-tinggi, agar semua dapat melihat mahkota itu. Yazid berkata, Adakah kalian melihat orang yang tak menginginkan benda ini?, tanyanya. Mereka berkata, “Semoga Allah memperbagus keadaan Amir, siapa pula ylang akan menolak barang itu?”, tambahnya.
Yazid menukas, “Kalian akan melihat bahwa ada diantara umat Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, senantiasa tidak menginginkan harta ini ataupun yang semacam dengan ini yang ada diatas bumi”, cetusnya. Kemudian Yazid memanggilnya pembantunya, “Carilah Muhammad bin Waasi’”. Lelaki tua itu ditemukan oleh pembantunya Yazid, dan ia dalam keadaan sedang berzikir, beristighfar, bersyukur dan berdo’a. “Amir Yazid memanggil anda sekarang juga”, ujar utusan itu. Maka, beliau berdiri dan berjalan mengikuti utusan Yazid.
kemudian pemimpin pasukan Islam, Yazid bin Muhallab bertemu dengan Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Abu Abdillah, pasukan muslimin telah menemukan mahkota yang sangat berharga ini. Aku melihat andalah yang layak untuk menerimanya, sehingga kujadikan mahkota ini sebagai bagianmu, dan orang-orang telah setuju”. Muhammad, “Anda menjadikan ini sebagai bagianku wahai Amir?”, tanyanya. Yazid, “Benar. Ini bagianmu”, tambahnya. Muhammad, “Aku tidak memerlukannya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan mereka”, tegas Muhammad. Yazid, “Aku telah bersumpah bahwa engkaulah yang harus mengambil ini”.
Dengan terpaksa Muhammad bin Waasi’ menerimanya dikarenakan sumpah amirnya. Setelah itu Muhammad berpamitan kepada Yazid dan meninggalkannya. Orang-orang yang tak mengenalnya berkata sinis, “Nyatanya dia bawa juga harta itu”.
Sementara itu Yazid memerintahkan prajuritnya menguntit sheikh itu dengan diam-diam, apa yang hendak dilakukannya terhadap benda yang sangat berharga itu.
Muhammad bin Waasi’ berjalan dengan menentang harta berharga ditangannya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan orang asing, yang kusut masai dan pakaiannya compang-camping meminta-minta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah Rabbul Alamin. Sheikh itu segera menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke belakang … dan setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota itu kepada orang yang miskin itu. Orang miskin pergi dengan suka-cita, seakan beban yang dipikulnya telah diangkat dari punggungnya.
Tanpa disadari seorang prajurit memegang tangan orang miskin itu, dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadiannya. Mahkota itu diambil lagi oleh amir, dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya. Yazid berkata pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa diantara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya”, ujar Yazid.
Sebuah kazanah dalam sejarah Islam, yang sangat berharga bagi kehidupan kaum muslimin, dan sekaligus tadzkiroh yang tak akan habis-habis.(Era)
Diberdayakan oleh Blogger.