Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Cinta ibadah. Tampilkan semua postingan

Go Ihsan - Subuh kesiangan, Zuhur kerepotan, Ashar di perjalanan, Maghrib kecapekan, Isya ketiduran. Itulah potret umat Islam saat ini. Meski mayoritas di negeri muslim, namun realitanya, tak sedikit yang abai menjalankan syariatnya.

Istilah “Islam KTP” sepertinya begitudominan di kalangan umat Islam Indonesia. Salah satu rukun Islam yang diabaikan adalah menegakkan shalat. Padahal, shalat itu adalah tiangnya agama. Allah Swt berfirman, “Dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Ahzab: 33). Di ayat yang lain, Allah berfirman, “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).
Tentu saja shalat, bukan sekedar menggugurkankewajiban, tapi memahami esensinya. Sebagaimana firman-Nya, “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Apa saja hikmah shalat, dan kenapa umat Islam tak bolehmengabaikan shalat? Berikut penjelasannya:


• Shalat Tiang Agama
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: “Islam dibangun di atas lima pilar: Syahadat bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari Muslim).
Rasulullah Saw bersabda: “Shalat adalah tiang agama, maka siapa yang mendirikan shalat, berarti ia menegakkan sendi-sendi agama, dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.” Maka tegakkan tiang-tiang agama itu, agar kita tidak termasuk sebagai orang yang meruntuhkan agama.

• Amalan yang Pertama Kali Dihisab
Kenapa shalat tak boleh ditinggalkan? Karena shalat adalah amal yang akan ditanya di hari perhitungan nanti. Dari Abu Hurairah ra berkata: “Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik ia benar-benar telah beruntung dan sukses. Dan jika shalatnya rusak benar-benar telah celaka dan merugi.”(HR. at-Tirmidzidan an-Nasa’i).

• Angkat Derajat dan Diberi Kemudahan
Rasullullah Saw bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud, sesungguhnya sujud satu saja karena Allah niscaya Allah mengangkat satu derajat dan Allah menghapus satu kesalahanmu.” (HR Muslim).
Bukan hanya mengangkat derajat seseorang, tapi juga akan diberi kemudahan dan jalan keluar. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).
Ibnu Katsir berkata, “Allah Taala menjelaskan bahwa sarana terbaik sebagai penolong dalam memikul musibah adalah kesabaran dan shalat. ”Karena itu shalat adalah sebaik-baik solusi dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup. Karena tidak ada cara yang lebih baik dalam mendekatkan diri seseorang dengan Rabb-nya kecuali dengan shalat. Kata Rasulullah Saw: “Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-Nya adalah ketika dia sujud, maka perbanyak doa.” (HR Muslim).
Ingat kisah Nabi Yunus as, ketika Allah menegurnya: “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. ash-Shafât:143-144).

• Pembatas Kafir dan Muslim
Tegas Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka dia kafir terang-terangan.” (HR. Ahmad). Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dari Jabir).
“Perjanjian (yang membedakan) antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang sengaja meninggalkannya maka ia telah menjadi kafir.” (HR. Ahmad).

• Dijauhkan dari Syaitan
Imam Ali as berkata: “Jika seseorang berdiri melaksanakan shalat maka Iblis menghadap kepadanya sambil memandangnya dengan hasud karena melihat rahmat yang menyelimutinya.”
Itulah sebabnya, shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Namun, Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh mengatakan: “Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dankemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.

• Menjadikan Wajah Bercahaya
Tidak sama wajah orang shalat dan tidak shalat. Adapun “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.. (Al Qiyamah:22) Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (Al insan:11) Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. (Al Mutahaffifin:24).
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan..”(Yunus:26).
Sedangkan orang yang tidak shalat disebutkan, “Barangsiapa yang lalai daripada mengingatKu, maka baginya kehidupan yang sempit” . Dan wajah-wajah pada hari itu muram..(Al Qiyamah:24).

• Masuk Neraka Wail dan Saqar
Seharusnya kita bergetar ketika mendengar ayat ini. “Apakah yang memasukkan kamu kedalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”. (QS al-Muddatstsir: 42-47).
Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah Saw bersabda: “Shalat adalah tiang agama, maka barangsiapa yang meninggalkan shalatnya secara sengaja maka ia telah menghancurkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkan waktu-waktunya maka ia akan memasuki Wail, yakni sebuah lembah di neraka Jahannam sebagaimana Allah Swt berfirman: Maka Wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4 dan 5).

• Dikumpulkan Bersama Qarun dan Fir’aun
Orang yang meninggalkan shalat kelak pada hari kiamat akan dihimpun bersama Qarun, Fir’aun, Hamman, dan Ubay bin Khalaf. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang menjaga (shalat)nya, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, ia tidak akan punya cahaya, petunjuk, dan tidak selamat. Dan kelak pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Hamman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban)
Itulah sebabnya Nabi Ibrahim as berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.(QS: Ibrahim: 40).
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang menegakkan shalat, dan takut dengan siksa-Nya di Yaumul Hisab (perhitungan) kelak. Masihkah kita mengabaikan shalat? (Panji)

Go Ihsan - Dalam Al Qur’an, shalat dan zakat tak bisa dipisahkan. Seorang muslim yang rajin shalat, namun tak pernah peduli dengan kaum dhuafa, yatim piatu, kerabat dekat dan lingkungan sekitarnya, maka tiadalah guna keimannya itu.

Shalat dan menginfakkan rezekinya kepada mereka yang berhak adalah tanda ketakwaan. Dan menjadi pintu diturunkannya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. “Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Rasul supaya kamu diberi rahmat”. (QS. An-Nuur: 56).
Di ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.”(QS. Adz Dzaariyaat: 19)

Inilah jaminan Allah terhadap orang menyisihkan rezekinya kepada kaum fakir miskin. “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki mapun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al Hadid: 18)
Janganlah mengira orang yang memberikan sedekah membuat seseorang menjadi miskin. “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul?…”(QS. Al Mujaadilah: 13)
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjarab) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261)
Diayat yang lain, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)
“Hendaklah orang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Kelak Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Thalaaq: 7)
Orang yang tidak peduli dengan kaum dhuafa, Allah mengancamnya dengan azab yang pedih. “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyaka. Kemudian, beliatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.” (QS. Al Haaqqah: 30-34).
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw seraya bertanya: “Wahai Rasulullah! Sedekah seperti apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau lalu menjawab, “Kamu bersedekah dalam kondisi sehat dan kikir, takut miskin dan mengangankan kekayaan. Janganlah kamu menyepelekan, hingga ketika nyawa sudah berada di kerongkongan, kamu baru mengatakan, “bagi si fulan bagiannya segini dan segitu”, padahal harta tersebut sudah milik orang lain. (HR. Bukhari-Muslim) (Panji)

Go Ihsan - Ajaran Islam menempatkan sholat lima waktu sebagai sebuah ibadah mahdhoh (ritual) yang memiliki keistimewaan. Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah sholat lima waktu dari Allah subhaanahu wa ta’aala dengan cara yang juga sangat istimewa.

Allah ta’aala memperjalankan hambaNya dalam suatu malam menempuh horizontal journey from earh to earth dari masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsho di Baitul Maqdis (Jerusalem).

Selanjutnya Allah ta’aala perjalankan hambaNya dalam suatu vertical journey from earth to the heavens in the sky dari Masjid Al-Aqsho di Baitul Maqdis bertemu langsung dengan Allah ta’aala di langit tertinggi. Lalu pada saat beraudiensi langsung dengan Allah ’Azza wa Jalla itulah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah menegakkan sholat lima waktu setiap hari.

Sholat merupakan bentuk formal dzikrullah atau mengingat Allah ta’aala. Bagi seorang muslim betapapun banyaknya lisannya berzikir dalam pengertian ber-wirid setiap harinya, namun bila ia tidak menegakkan sholat berarti ia meninggalkan secara sengaja kewajiban mengingat Allah ta’aala secara resmi sebagaimana diperintahkan Allah ta’aala dan sesuai contoh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.



Sholat adalah bukti kepatuhan dan loyalitas hamba kepada Rabbnya. Sholat lima waktu merupakan indikator seorang hamba masih connect dengan Pencipta, Pemilik, Pemelihara alam semesta. Bila seorang manusia tidak sholat lima waktu secara disiplin setiap hari berarti ia merupakan hamba yang disconnected (terputus) dari rahmat Allah ta’aala. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa seseorang bakal celaka walaupun ia sholat. Sebab ia lalai menjalankan sholatnya sehingga tidak selalu disiplin lima waktu setiap harinya.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS Al-Maa’uun ayat 4-5)

Di antara alasan utama seorang muslim lalai menegakkan sholat lima waktu setiap hari -apalagi berjama’ah di masjid- adalah karena dihinggapi penyakit malas beribadah. Padahal kemalasan beribadah -khususnya sholat lima waktu- langsung mengindikasikan kelemahan komitmen dan kepatuhan muslim kepada Allah ta’aala. Bahkan sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhumengatakan bahwa di zaman para sahabat radhiyallahu ’anhum hidup bersama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jika ada muslm yang tidak sholat berjama’ah di masjid berarti ia diasumsikan sebagai seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya.

Maka dalam rangka mengikis penyakit malas beribadah seorang Muslim perlu juga memahami apa manfaat sholat lima waktu setiap hari. Di antaranya ialah dihapuskannya dosa-dosa oleh Allah ta’aala. Subhaanallah…! Bayangkan, setiap seorang muslim selesai mengerjakan sholat yang lima waktu berarti ia baru saja membersihkan dirinya dari tumpukan dosa yang sadar tidak sadar telah dikerjakannya antara sholat yang baru ia kerjakan dengan sholat terakhir yang ia ia kerjakan sebelumnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sholat lima waktu dan (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)

Bila seorang muslim memahami dan meyakini kebenaran hadits di atas, niscaya ia tidak akan membiarkan satu kalipun sholat lima waktunya terlewatkan. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan bahwa bila seorang muslim khusyu dalam sholatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu. Subhaanallah…!

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
“Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu sholat fardhu lalu ia membaguskan wudhunya, khusyu’nya, rukuknya, melainkan sholatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian itu berlaku untuk seterusnya.” (HR Muslim 2/13)

Syaratnya asalkan ia tidak terlibat dalam dosa besar, maka dosa-dosa masa lalunya pasti bakal diampuni Allah ta’aala. Adapun di antara dosa-dosa besar ialah sebagaimana disebutkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yakni:
ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنْ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ
Ketika ditanya mengenai dosa-dosa besar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Mempersekutukan Allah ta’aala, membunuh jiwa serta durhaka kepada kedua orang-tua. Dan maukah kalian kuberitakan mengenai dosa besar yang paling besar? Yaitu kesaksian palsu.” (HR Muslim 1/243)

Untuk menghapus dosa-dosa besar tersebut tidak cukup dengan seseorang menegakkan sholat lima waktu. Ia harus menempuh prosedur taubatan nasuha yang khusus. Maka hindarilah sedapat mungkin terlibat dalam mengerjakan dosa-dosa besar. Dalam bahasa berbeda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan kita agar menjauhi tujuh penyebab bencana, yaitu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ
وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ
وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh penyebab bencana.” Para sahabat radhiyallahu ’anhum bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah ta’aala, sihir, membunuh jiwa yang Allah ta’aala haramkan membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, desersi dari medan jihad serta menuduh wanita mu’minah yang memelihara diri sebagai melakukan perbuatan keji.” (HR Muslim 1/244) (Era)

Go Ihsan - Jumhur ulama berpendapat bahwa perbedaan niat imam dan makmum tidak masalah dalam salat jamaah. Orang yang shalat fardhu boleh mengikuti orang yang shalat nafilah, orang yang shalat nafilah boleh mengikuti orang yang shalat fardhu, dan orang yang shalat fardhu boleh mengikuti orang yang juga shalat fardhu dengan niat berbeda. Dengan demikian dalam kajian ini setidaknya ada tiga bentuk perbedaan niat.

Bentuk pertama, misalkan seseorang masuk masjid sementara imam sedang shalat Tarawih. Ia boleh shalat Isya’ dua rakaat bersama imam, setelah imam salam, ia berdiri meneruskan dua rakaat sisanya. Demikian pendapat Imam Syafi’i dan rekan-rekannya, juga salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, dipilih Ibnu Qudamah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga Allah merahmati mereka semuanya. (Al- Majmû’, IV/269, Al-Mughni, III/67, Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyah, XXIIII/386)

Pendapat ini didasarkan pada riwayat Jabir radhiyallahu ‘anha, bahwa sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anha shalat Isya’ bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia kembali ke kaumnya lalu mengimami mereka shalat yang sama. (HR. Bukhari-Muslim)

Dalil lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kelompok kedua dalam shalat khauf dan shalat yang kedua ini nafilah bagi beliau. Beliau shalat dengan kelompok pertama lalu salam, dan shalat lagi bersama kelompok kedua lalu salam juga. (HR. Abu Dawud, IV/126, An-Nasa`I, III/178 dan disahihkan Albani dalam Shahîh Abu Dawud, I/232)

Terkait hadist, Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka jangan menyalahinya” (HR. Bukhari Muslim) Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa perbedaan niat dalam shalat tidak boleh, karena maksud perbedaan dalam hadits ini adalah perbedaan gerakan-gerakan lahir. Seperti itulah yang ditafsirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam lanjutan hadits yang sama. Dengan asumsi hadits ini berlaku secara umum untuk perbedaan niat dan gerakan-gerakan lahir, toh dikhususkan dengan hadits lain, seperti hadits Jabir di atas sehingga tidak ada kontradiksi antara dalil umum dan dalil khusus.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menuturkan, “Mereka yang melarang perbedaan niat antara imam dan makmum, tidak memiliki hujjah kuat. Mereka hanya bersandar pada lafal yang sama sekali tidak memperkuat inti masalah yang diperdebatkan, seperti sabda Nabi SAW, ‘Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka jangan menyalahinya,’ atau sabda, ‘Imam itu menjamin’ sehingga shalat imam tidak lebih sempurna daripada shalatnya makmum. Kedua hadits ini sama sekali tidak menolak hujjah-hujjah perbedaan niat imam dengan makmum yang telah disebut sebelumnya. Dan perbedaan yang dimaksud dalam hadits ini adalah perbedaan gerakan-gerakan lahir, seperti dijelaskan dalam lanjutan hadits yang sama’,”

Kemudian Ibnu Taimiyah juga menjelaskan, “Shalat nafilah di belakang orang yang shalat fardhu disebutkan dalam sejumlah hadits, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, diketahui bahwa kesamaan niat dalam shalat fardhu ataupun nafilah dengan niat imam tidak wajib. Imam tetap menjamin shalatnya makmum, meski si imam shalat nafilah.” (Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyah (XXIII/385-386)

As-Sindi mengomentari hadits tentang shalat khauf sebelumnya, “Hadits ini mengharuskan orang yang shalat fardhu mengikuti orang yang shalat nafilah secara pasti. Saya tidak mengetahui mereka—yang mengharuskan kesamaan niat antara imam dan makmum—memiliki jawaban memuaskan.” (Hâsyiyat As-Sindi, III/178)

Bentuk kedua, orang shalat nafilah mengikuti orang shalat fardhu. Misalkan seseorang masuk masjid dan mendapati jamaah tengah shalat, sementara ia sudah mengerjakan shalat tersebut. Maka tidak mengapa ia ikut shalat bersama jamaah, dan shalat tersebut terhitung nafilah (Sunnah) baginya. (Al-Mughni, III/68)

Bentuk ketiga, orang shalat fardhu mengikuti orang yang juga shalat fardhu. Misalkan seseorang masuk masjid dan ia belum shalat Zhuhur, sementara imam saat itu shalat Ashar. Saat itu ia shalat mengikuti imam dengan niat shalat Zhuhur, kemudian setelah itu baru shalat Ashar, karena tertib dalam shalat hukumnya wajib, dan tidak gugur meski dikhawatirkan ketinggalan shalat berjamaah. (Fatâwâ Syaikh Bin Baz, XII/182, 191)

Juga boleh shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib atau Isya’ di belakang orang yang shalat Shubuh, dengan syarat gerakan-gerakan kedua shalat yang dilakukan tidak berbeda, berdasarkan hadits “Janganlah kalian menyalahi (gerakan)nya (imam).” Dengan demikian, tidak boleh shalat Zhuhur di belakang orang yang shalat kusuf misalnya. (Al-Mughni, III/69)

Ini adalah pendapat fuqaha Syafi’iyah, salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, dan dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Mu’adz. Hadits ini menunjukkan bahwa perbedaan niat imam dan makmum tidak berpengaruh. Seperti itu juga dengan permasalahan yang tengah dibahas di sini. Perbedaan niat shalat fardhu dengan shalat fardhu lain tidak berpengaruh. Wallahu ‘alam bisshawab!
Fakhruddin

Sumber: Buku “Ensiklopedi Shalat” Abu Abdirrahman Adil Bin Sa’ad, Penerbit:
Ummul Qura, Jakarta

Go Ihsan - Pahala Sholat Jumat dan keutamaannya sungguh luar biasa. Salah satunya, Allah akan mengampuni dosa antara dua Jumat, bahkan ditambah tiga hari.

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

Siapa yang berwudhu dengan memperbagus wudhunya kemudian mendatangi Sholat Jumat, mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampuni dosanya antara dua Jumat ditambah tiga hari.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Namun, pahala besar itu bisa sia-sia jika saat khutbah Jumat melakukan tiga hal yang dianggap remeh ini.

Apa saja? Ini tiga hal “remeh” yang menghilangkan pahala Sholat Jumat:



1. Berbicara

Dilarang berbicara ketika khatib sedang berkhutbah, khususnya pembicaraan yang tidak perlu. Karena ada pendapat jamaah Jumat boleh berbicara jika ditanya oleh khatib. Ketika sedang berkhutbah, Rasulullah pernah bertanya kepada sahabat yang baru datang apakah ia sudah sholat sunnah, sahabat itu pun menjawab pertanyaan Rasulullah.

Larangan berbicara ketika khatib sedang berkhutbah ini, menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili hukumnya makruh sedangkan menurut Sayyid Sabiq hukumnya haram. Namun kedua-duanya bisa menghilangkan pahala Sholat Jumat.

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً

Siapa yang berbicara di hari Jumat sementara imam sedang berkhutbah maka ia seperti keledai yang membawa kitab-kitab” (HR. Ahmad)

Baca juga: Shalat Istikharah Jodoh

2. Bermain kerikil atau lainnya

Bermain kerikil juga bisa menghilangkan pahala Sholat Jumat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Siapa yang berwudhu dengan memperbagus wudhunya kemudian mendatangi Sholat Jumat, mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampuni dosanya antara dua Jumat ditambah tiga hari. Siapa yang menyentuh kerikil maka ia telah berbuat sia-sia” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Di zaman sekarang mungkin orang tidak ada yang main kerikil, namun kadang dijumpai orang yang main Smartphone ketika khatib sedang berkhutbah. Sama saja, itu juga bisa menghilangkan pahala Sholat Jumat.

3. Berucap tak perlu meskipun satu kata

Tak hanya bercakap-cakap, bahkan mengucapkan satu kata yang tak perlu saja bisa menghilangkan pahala Sholat Jumat.

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَا

Siapa yang berbicara kepada temannya di hari Jumat ketika imam sedang berkhutbah, ‘diamlah’ maka ia telah berbuat sia-sia” (HR. An Nasa’i, Tirmidzi, dan Ahmad)

Semoga kita terhindar dari tiga hal ini sehingga bukan sekedar gugur kewajiban Sholat Jumat namun juga mendapatkan pahala dariNya secara sempurna dan dosa kita diampuni. [Kisahikmah]

Go Ihsan - Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam marah atas nama pribadi. Beliau yang mulia hanya marah jika ada aturan-aturan Allah Ta’ala yang dilanggar. Salah satunya dalam kisah berikut ini. Beliau marah besar dan langsung berpidato lantaran kesalahan yang dilakukan oleh imam shalat Shubuh. Beliau marah karena bacaan shalat Shubuh imam.

“Aku sengaja terlambat shalat Shubuh berjamaah karena bacaan al-Qur’an si Fulan.” tutur salah satu kaum Muslimin.

“Sebab,” lanjutnya sampaikan pengaduan, “jika si Fulan yang menjadi imam, bacaannya sangat panjang.”

Seketika itu juga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam marah besar. Beliau langsung mengumpulkan kaum Muslimin dan menyampaikan pidatonya.

“Hai segenap manusia, sesungguhnya di antara kalian ada sikap yang membuat banyak orang menjauhi kebaikan (munaffir). Maka siapa saja yang menjadi imam dalam shalat, hendaklah dia memendekkan bacaan. Sebab di belakangnya ada orang tua renta, anak kecil, dan orang yang terdesak keperluan.”



Hadits dengan derajat muttafaq ‘alaih ini dikutip oleh Dr ‘Ali Hasyimi dalam buku Membentuk Kepribadian Muslim Ideal menurut al-Qur’an dan as-Sunnah.

***

Siapa pun kita adalah dai. Kita memiliki misi mengajak sebanyak mungkin umat manusia untuk merasakan indahnya Islam dan manisnya iman. Jangan sampai kita justru menjadi sebab bagi sebanyak mungkin orang hingga menghindar, menjauh, bahkan takut dengan Islam yang amat mulia.

Bersikaplah bijak. Jangan sampai salah bertindak. Sebab apa pun tindakan yang kita kerjakan, ianya akan dinisbatkan kepada Islam sebagai agama yang kita peluk dan amalkan dalam keseharian.

Membaca surat dalam shalat hukumnya sunnah. Sedangkan mengajak orang agar berislam dan istiqamah dalam Islam hukumnya wajib. Jangan sampai karena bacaan kita terlalu panjang dalam shalat Shubuh atau yang lainnya menjadikan orang-orang menghindar, bahkan kaum Musimin turut menjauh.

Sebab, jamaah memiliki keperluan dan karakternya masing-masing. Ada yang sudah tua, menderita penyakit, atau memiliki jadwal kerja yang ketat hingga harus bergegas, tidak bisa berlama-lama di masjid untuk shalat berjamaah.

Namun, jika disepakati di sebuah masjid dan jamaah sudah mengetahuinya, memanjangkan bacaan bukan menjadi masalah. Sebab hal itu bisa menjadi sarana pembelajaran agar kita mampu menggapai shalat yang khusyuk.

Dan jika masjid di sekitar rumah kita membiasakan bacaan pendek atau sedang dalam shalat berjamaah, hendaknya kita berupaya sungguh-sungguh untuk tetap menikmati shalat dengan memanjangkan bacaan dalam shalat sunnah. Baik rawatib, Dhuha, Tahajjud, atau shalat sunnah lain yang disyariatkan.

Jangan sampai terburu-buru saat shalat sunnah sendirian, namun berlama-lama tatkala menjadi imam shalat berjamaah. Na’udzubillah.

Wallahu a’lam. [Kisahikmah]

Go Ihsan - Membaca bismillah? Bagi sebagian orang barangkali kurang terlalu mendapat perhatian. Sederhana memang pengucapan lafaz ini, tetapi ternyata tahukah Anda jika membaca bismillah dalam setiap urusan kita mempunyai banyak faedah.

Dalam kitabnya yang berjudul Abwab al-Faraj, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliky al-Hasany mengungkap manfaat dan fungsi bismillah yang justru jarang tersentuh. Meski dalam pandangannya, hukum membaca bismillah adalah sunah.


Namun, ternyata memang tiga di antara fungsi tersebut sangat dahsyat. Berikut tiga fungsi bismillah yang penting kita ketahui agar semakin yakin membaca bismillah di tiap aktivitas kita: 

Menghindarkan petaka. 

Mengutip Imam an-Nawawi, dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Wahai Ali maukah aku (Muhammad) ajarkan kepadamu kalimat menghadapi petaka?’ Ali lantas mengiyakan. Rasul kembali melanjutkan sabdanya, ”Jika menghadapi petaka maka ucapkanlah: bismillahirrahmanirrahim wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim.  Niscaya dengan kalimat itu, Allah akan menghilangkan petaka apapun yang Dia kehendaki.” 

Kunci tercapainya keinginan. 

Dari Wahab bin Munabbih, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya Allah memberikan kepada kalimat ini kekuasaan yang tidak dimiliki kalimat lainnya. Dengan bismillah, bersuci akan sempurna, sembelihan menjadi halal, setan akan tersingkir, anak-anak akan terjaga makanan dan minuman mereka.

Seandainya diucapkan dengan ketulusan hati, bismillahirrahmanirrahim lalu menuju laut, niscaya tidak akan mampu menenggelamkannya, berada di kobaran api tak akan terbakar, dan tak akan tersentuh ular dan kalajengking. Dan jika dibaca di ujung atas makam seorang mukmin, akan diangkat azabnya berkat berkah bismillah.”

Batas pemisah setan. 

Membaca bismillah memberikan dinding pemisah bagi pembacanya dari setan. Misal, siapa pun yang memasuki rumah dengan membaca bismillah, maka setan mengaku tak akan mampu memasuki rumah itu sebab bacaan bismillah. Begitu halnya bila dibaca tatkala hendak makan atau minum, maka setan tak bisa menyentuh makanan atau minuman itu. 

Demikian sebaliknya, jika seseorang tidak menyertakan basmalah dalam aktivitas mereka, setan akan ikut serta. Baik ketika makan, minum, hingga urusan bersanggama. Inilah mengapa, kata Sayyid Muhammad, hikmah mengapa harus disertakan basmalah dan doa sebelum bersanggama. 

Go Ihsan - Ikhlas adalah bentuk ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh hati dan tidak bisa terlihat. Ikhlas dalah perbuatan shaleh yang semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian.

Imam Syafi’i berkata: “Semua manusia mati kecuali mereka yang memiliki pengetahuan. Dan semua orang yang memiliki pengetahuan akan tertidur, kecuali mereka yang melakukan beramal shaleh. Dan mereka yang beramal shaleh akan ditipu, kecuali mereka yang ikhlas. Dan mereka yang ikhlas akan selalu merasa khawatir.”

Pamer (Riya) adalah salah satu tanda utama hilangnya keihkhlasan. Nabi Muhammad SAW bersabda:


“Yang paling kutakutkan untukmu adalah syirik kecil, yaitu ar-riya’. Allah akan mengatakan pada hari penghakiman ketika dia menghadiahi orang-orang untuk tindakan mereka: Pergi ke orang-orang yang kamu lakukan riya ‘untuk di dunia, kemudian lihat apakah kamu menemukan pahala dengan mereka.” (HR Ahmad)

Berikut ini beberapa ciri dari seorang Muslim yang tulus.

1.Menyempurnakan ibadahnya meskipun dalam keadaan sendiri
Orang yang ikhlas beribadah kepada Allah secara pribadi akan sama dengan ibadah yang ia lakukan ketika di depan orang. Bahkan, ia beribadah lebih khusyu ketika sendirian sehingga ia melakukan yang terbaik untuk mendapatkan ridha Allah.

2.Tidak Suka Dipuji
Karena hubungannya kuat dengan Allah, dia takut dipuji, jangan sampai membuat Allah tidak senang atau jangan sampai dia menjadi sombong.

3.Mendengarkan Nasihat
Orang-orang yang ikhlas tidak pernah mengabaikan nasihat, tidak peduli siapa yang memberikan nasihat. Orang yang ikhlas akan mengambil setiap kesempatan untuk belajar memperbaiki diri.

4.Tidak berambisi menjadi pemimpin
Anda akan selalu menemukan orang yang tulus tenang dan pendiam. Dia lebih suka dipilih, daripada mencalonkan dirinya untuk posisi tertinggi.

5.Dia Selalu Mengingat Kelemahan-kelemahannya
Orang yang tulus selalu sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki diri dan berhenti melakukan dosa. Dia selalu melihat kebaikan dalam diri orang lain dan selalu memberikan nasihat yang baik. Bahkan, dia selalu menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya.

“Jika seseorang bijak, perhatiannya atas dosa-dosanya sendiri akan mengalihkan perhatiannya dari melihat kesalahan orang lain” (Imam Syafi’i)

6.Dia Lebih suka Memberikan Amal Secara Rahasia
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Tujuh orang-orang yang akan mendapatkan perlindungan Allah  di hari kiamat ketika tidak akan ada lagi naungan selain naungan-Nya: Seorang penguasa yang adil, seorang pemuda yang rajin beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya melekat pada masjid, dua orang yang mencintai dan saling bertemu dan berangkat satu sama lain demi Allah, seorang pria yang digoda wanita cantik (untuk hubungan terlarang) tetapi dia (menolak tawaran ini dengan mengatakan): “Aku takut kepada Allah,” seseorang yang memberi sedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang beribadah Allah sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Diberdayakan oleh Blogger.