Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Cinta Sunnah. Tampilkan semua postingan

Go Ihsan -  Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainya, tidak boleh menganiayanya dan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan darinya satu kesukaran dari antara kesukaran-kesukaran pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (cacat)nya akan ditutup aibnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Swt menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia da di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An Nur: 19).

Dari Abu Hurairah juga ia berkata, Rasulullah saw bersabda:”Janganlah saling hasud menghasud, saling benci membenci dan saling berpaling, serta janganlah seseorang diantara kamu menjual atas penjualan kawannya, tapi jadilah kamu sekalian bersaudara, hai hamba Allah. Seorang muslim itu saduara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzaliminya, dan tidak boleh membiarkannya dalam keadaan terhina dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa itu disini (sambil menunjuk kea rah dadanya sebanyak tiga kali). Cukup dinilai bertindak jahat, siapa yang merendahkan kawan muslimnya yang lain. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram (terhormat) darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim).
3. Mendamaikan Perselisihan
Perselisihan yang terjadi dalam pergaulan, persahabatan dan pergerakan tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Apabila terjadi perselisihan, maka harus ada pihak yang mau menengahi atau mendamaikan secara adil, sehingga kedua belah pihak yang berselisih dan bertikai dapat kembali berdampingan.
Terjadinya konflik dan berbagai pertentangan hingga terjadi permusuhan diantara sesama kaum muslimin adalah karena diantara mereka tidak memiliki keikhlasan, atau keikhlasannya telah hilang dari dirinya.
Maka, ketika kita melihat perselisihan diantara kaum muslimin, Rasulullah saw mengajari umatnya untuk mendamaikan, bukan malah mengadu domba hingga menjadikan perselisihan semakin hebat.“Takutlah kamu kepada Allah dan damaikanlah persengketaan diantara kamu itu.” (QS. al-anfal:1)
Dan dari Ummu Kultsum bin ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak termasuk berdusta orang yang mendamaikan manusia, yaitu dia mencari kebaikan atau berkata baik.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ingatlah firman Allah Swt, ketika kaum muslimin berselisih paham dengan sesama muslim:“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujuraat: 9).
4. Memaafkan Saudaranya
Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan Allah, dan akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya ke dalam lingkungan hamba-hamba yang mendapat cinta-Nya, yaitu: seseorang yang selalu bersyukur ketika Allah memberi nikmat, seseorang yang mampu (meluapkan amarahnya) tetapi dia memberi maaf atas kesalahan orang, dan seseorang yang apabila marah, dia menghentikan amarahnya.” (HR. Hakim).
Memaafkan kesalahan saudaranya adalah salah satu dari akhlak yang utama. Seperti halnya pesan Nabi Muhammad Saw kepada sahabatnya.“Ya Uqbah, maukah kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu, menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (HR. Hakim).
Bahkan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah, Aku akan mengingatmu jika Aku sedang murka (pada hari Akhir).”
Rasulullah Saw lagi-lagi mengingatkan: “Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari-Muslim).
Mau tahu, balasan orang yang menahan marah dan suka memaafkan?“Barangsiapa yang menyembunyikan kemarahan, padahal dia mampu melakukannya, Allah akan menyerunya dihadapan para pemimpin makhluk, sehingga Dia memilihkan bidadari untuknya, lalu menikahkan dengannya sesuai dengan kehendaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Rasulullah Saw mengingatkan” “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.” (HR. Bukhari).
Di akhir pesan ini, sungguh mulia akhlak seorang muslim, jika ia mendoakan saudaranya seperti ini: “Dan orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-sadara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Mapa Penyantun, lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hasyr: 10).
Rasulullah Saw juga mengajarkan, “Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya.” (HR. Muslim)
Mulai detik ini, yuk kita hilangkan permusuhan dengan sesama muslim, dan para mujahid yang berjuang di jalan Allah. Tinggalkan segala perbedaan, cari persamaan diantara kita. Yuk tingkatkatkan fastabiqul khairat, saling memperkuat dan mengokohkan. Ketakwaan itu bukanlah karena pakaianmu atau rupamu, tapi kebaikan dan ketulusanmu kepada saudara sesama muslim. Kembalilah pada Al Qur’an dan as-Sunnah. Semoga Allah merahmati kita semua. [Panji]

Go Ihsan -  “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).

Meski Rasulullah Saw berkali-kali mengingatkan umatnya tentang arti persaudaraan, namun tetap saja diantara kita saling menyakiti, saling merendahkan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Simaklah nasihat Rasulullah Saw sekali lagi.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS.al-Hujuraat:10).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda:“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).
Ilustrasi
Dalam persahabatan perselisihan karena berbeda pendapat dan ijtihad itu adalah hal yang biasa. Namun tidak serta merta jalinan ukhuwah dan silaturahim menjadi terputus. Ingatlah, Allah Swt berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran: 103).
Perselisihan dan pertengkaran diantara kaum muslim, adalah akibat tidak menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk. Selama ini, kita merasa diri sudah beriman, paling shaleh, dan merasa sudah menjalankan sunnah-Nya. Sementara ia tidak menyadari dirinya telah merendahkan martabatnya terhadap sesama muslim, selalu berprangsaka tidak baik dan menggunjing keburukannya.
Ingat-ingat lagi sabda Rasulullah saw: “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra).
Karena itu, seseorang belum dapat dikatakan bertakwa sebelum ia mencintai saudaranya. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).
Menarik untuk disimak dari riwayat ini. Dari ‘Itban bin Malik, ia berkata, “Pada sebuah kunjungan, beliau mengerjakan shalat di rumah kami. Seusai shalat beliau bertanya, “Dimana gerangan Malik bin ad-Dukhsyum?
Ada seorang yang menyahut, “Dia adalah seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasulnya!” Rasulullah segera menegur seraya berkata: “Jangan ucapkan demikian, bukankah kamu mengetahui dia telah mengucapka kalimat syahadat La ilaha illallah? Semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah? Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah. (Muttafaq’ alaih)
Sangat tidak dibenarkan, seorang muslim memberi kesaksian palsu mengenai perilaku saudaranya yang tidak terbukti kebenarannya.
1. Menutup Aib Saudaranya
Sesama saudara muslim bukanlah rival. Namun Islam mengajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ketika persaingan itu terjadi, acapkali kita menebar cela dan cacat saudaranya, kerap berprasangka, hingga terbetik keinginan untuk menghancurkan kredibelitasnya. Sesungguhnya itu perbuatan zalim.
Bukankah Allah berfirman dalam Al Qur’an: “….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).
Sebagai muslim, seharusnya kita menutup segala aibnya di masa lalu.“Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari Kiamat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Orang yang menutup aib saudaranya akan dijamin masuk surge, seperti sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).
2. Hak dan Kewajiban Muslim
Sungguh sangat disayangkan, jika sesama muslim tidak menegur saudaranya ketika terlibat perselisihan. Diantara mereka merasa gengsi jika menegur lebih dulu. Padahal ukuran seorang yang bertakwa adalah ketika ia menjadi orang yang pertama kali menyapa dan memberi salam kepada saudaranya. Bukan saling berpaling.
Rasulullah saw mengingatkan, “Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam, yaitu mereka bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Tetapi, orang yang paling baik adalah yang paling dahulu memberi salam.” (HR. Muslim).
Setelah mengucapkan salam, maka iringilah dengan kebajikan yang lain. Kata Rasulullah Saw: “Hak muslim terhadap sesamanya ada enam, Rasulullah ditanya,”Apa saja itu, ya Rasulullah? Beliau menjaw, “Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu penuhilah undangan tersebut, apabila dia meminta nasihat, berikanlah, apabila dia bersin lalu mengucapkan hamdalah jawablah, apabila dia sakit jenguklah, dan apabila dia meninggal dunia, antarkanlah.” (HR. Muslim).
Bahkan, disunnahkan agar sesama muslim saling berjabat tangan yang disertai dengan senyuman yang tulus. “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Albani).
Hak dan kewajiban seorang muslim kepada saudaranya, adalah membantu saudaranya yang kesusahan, bukan malah mendoakan sesuatu yang buruk menimpanya. Sifat hasud dan dengki itu tidak pantas disandang oleh seorang muslim. Apalagi berniat dan sampai menumpahkan darah saudaranya.
 (Bersambung)

Go Ihsan - Tetangga merupakan orang yang sangat dekat dalam keseharian kita. Jika kita keluar rumah, maka tetangga-lah yang kita temui pertama kali. Saat kita membutuhkan bantuan, tetangga-lah yang pertama kali kita datangi pintu rumahnya. Sangat tidak mungkin bagi kita untuk hidup tanpa tetangga. Sungguh tetangga sangatlah penting artinya dalam kehidupan kita hingga Allah memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs. An-Nisa’: 36) 

Bahkan tetangga begitu mulianya dalam ajaran Islam hingga Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu menjaga hak tetangga.

“Senantiasa Jibril berpesan kepadaku tentang (hidup) bertetangga, sampai aku menyangka bahwa dia tetangga akan mewarisi tetangganya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketahuilah saudariku, berbuat baik terhadap tetangga adalah bukti keimananmu kepada Allah. Dan tidak akan sempurna keimananmu sebelum engkau mencintai tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri. Engkau menginginkan kebaikan bagi mereka sebagaimana engkau menginginkan kebaikan pada dirimu sendiri, merasa bahagia ketika mereka bahagia dan merasa sedih ketika mereka merasa sedih.

“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim) Oleh karenanya saudariku, berlembut hatilah terhadap tetanggamu dan ringankan tanganmu untuk membantu tetanggamu serta bersikaplah peka terhadap hal-hal yang mengganggu atau menyakiti mereka.


Berbuat Baik pada Tetangga sesuai Kemampuan

Maka hendaknya engkau, saudariku, tidak melupakan diri untuk berbuat baik pada tetanggamu meskipun anya sedikit. Bukankah engkau yakin dengan janji Allah
“Dan barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (Qs. Az-Zalzalah: 8)

Janganlah merasa malu dengan sedikitnya pemberianmu. Dan jangan pula karena berbangga-bangga menghalangimu untuk memberi dalam jumlah sedikit. Engkau beralasan pemberian yang sedikit tidak layak bagi tetanggamu, lalu engkau menahan pemberianmu karena menunggu jumlah yang banyak, sampai akhirnya engkau tidak mampu mencapai jumlah yang banyak itu dan hilanglah kesempatan untuk berbuat baik kepada tetanggamu. Wal iyya’udzubillahi min dzalik. Ingatlah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu

“Wahai sekalian wanita muslimah, tidak diperbolehkan seorang tetangga menganggap remeh pemberian yang dia berikan kepada tetangganya. meskipun hanya sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dan sebaliknya, seorang tetangga tidak boleh menghina kebaikan yang diberikan oleh tetangganya meskipun kebaikan itu hanya sedikit. Justru ia harus mensyukurinya sehingga tumbuhlah kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan bertetangga. Dan di antara bentuk berbuat baik terhadap tetangga adalah memberikan hadiah kepada tetangga misalnya engkau mengirimkan sebagian masakanmu ketika masakanmu tercium oleh tetanggamu dan mereka menginginkannya sementara mereka tidak mampu untuk membuat masakan seperti itu. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Apabila engkau memasak sayur berdaging, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga tetanggamu, lalu berilah mereka dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)

Terlebih lagi jika tetangga sangat membutuhkan bantuanmu, seorang muslimah hendaknya mengulurkan tangannya terutama jika dia berada dalam kemudahan rezeki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah beriman kepadaku seorang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sementara dia mengetahui.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)
Bentuk lain dari berbuat baik terhadap tetangga adalah hendaknya seorang muslimah tidak pelit untuk memberikan nasihat dan saran kepada tetangga, bahkan mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah keburukan dengan bijaksana dan baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan mereka. Selain itu seorang muslimah hendaknya juga memelihara hak-hak mereka di saat mereka tidak ada di rumah yaitu menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan usil.

Mendahulukan Tetangga Terdekat

Sesungguhnya tetangga yang masih kerabat memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga yang bukan kerabat.

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs.An-Nisa’: 36)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang masih memiliki hubungan nasab (keluarga), sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan nasab. Maka tetangga dekat memiliki dua hak yaitu hak sebagai keluarga dan hak sebagai tetangga sementara tetangga jauh hanya memiliki satu hak yaitu hak sebagai tetangga. Maka selayaknya seorang muslimah mengutamakan tetangga dekat terlebih dahulu.

Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah tetangga yang masih memiliki hubungan nasab atau ikatan agama. Sedangkan tetangga jauh adalah yang tidak ada hubungan darah atau ikatan agama. Oleh karena itu tetangga muslim lebih pantas didahulukan daripada tetangga yang kafir karena adanya ikatan agama.

Demikian juga tetangga yang paling dekat letak rumahnya memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga yang jauh letak rumahnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kau memiliki dua tetangga, kepada tetangga mana aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab,“Kepada yang paling dekat pintu rumahnya.” (HR. Bukhari)

Mendahulukan tetangga terdekat akan lebih memelihara perasaan tetangga. Hal ini karena biasanya tetangga dekat memiliki hubungan dan muamalah yang lebih kental. Namun bukan berarti seorang muslimah memalingkan pandangannya dari tetangga yang jauh karena semua rumah yang berada di sekitar tempat tinggalnya adalah tetangganya dan memiliki hak sebagai tetangga.

Meruginya Tetangga yang Jahat

Wahai saudariku muslimah, janganlah engkau menyakiti atau menganggangu tetanggamu. Hendaknya engkau peka terhadap sikap yang engkau perlihatkan dan suara yang engkau perdengarkan kepada tetanggamu.

Janganlah bangunan yang engkau bangun membuat mereka terhalang dari sinar matahari atau udara. Janganlah sampai bangunan tersebut melampaui batas tanahnya, sehingga bisa merusak atau mengubah hak miliknya karena hal tersebut akan menyakiti hatinya.

Jangan pula engkau mengganggu tetanggamu dengan mengotori halaman mereka atau menutup jalan bagi mereka. Dan hendaknya seorang muslimah tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan serta tidak pula bahagia bila mereka keliru. Bahkan ia seharusnya tidak memandang kealpaan mereka dan merahasiakan kekurangan mereka.

Wahai saudariku, janganlah engkau membuat kegaduhan yang mengganggu mereka. Jangnlah mengeraskan suara radio, TV atau suara yang sejenis sehingga mengganggu kegiatan mereka atau mengganggu istirahat mereka ketika sakit. Bahkan sekalipun yang diperdengarkan adalah bacaan Al-Quran, selama hal tersebut mengganggu tetangga maka berarti dia telah berbuat zhalim.

Sungguh tetangga yang jahat akan dijauhkan dari nikmatnya iman. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman!” Nabi ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab,”Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tak hanya hilangnya nikmat iman, amalannya akan musnah karena kejahatannya dan ia pun dijauhkan dari surga.

Pernah ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun malam dan berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti tetangganya melalui ucapan.” 

Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan baginya, dan dia termasuk penghuni neraka.”

Kemudian para sahabat berkata, “Ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib, bersedekah dengan susu yang dikeringkan dan dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari tetangganya.”

Maka Rasulullah menajwab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari)
Dan hendaklah seorang muslimah bersabar jika mendapati perlakuan tidak baik dari tetangga serta memaafkan dan tidak membalasnya. Dan janganlah mengedepankan emosi jika salah satu putranya bertengkar dengan putra tetangganya kemudian bersikap tidak acuh terhadap tetangganya, namun ia seharusnya mendamaikan dan berlapang dada. Bergembiralah menjadi tetangga yang penyantun dan kasih, bergembiralah dengan kesabaranmu karena engkau akan mendapatkan pahala dan keridhaan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah… — disebutkan diantaranya– Sesorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian.” (HR. Ahmad)

Perbuatan Buruk ke Tetangga Mendapat Ganjaran Dosa Berlipat Ganda
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, ketika beliau bertanya kepada para sahabat, “Apa yang kamu katakan tentang (hukum) zina?” Mereka menjawab, “Haram.”

Lalu beliau bersabda, “Seseorang berzina dengan sepululh wanita lebih ringan dibanding jika ia berzina dengan istri tetangganya.”

Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apa yang kamu katakan tentang (hukum) mencuri?” Mereka menjawab, “Haram.”

Lalu, beliau bersabda, “Seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan (dosanya) dibanding jika ia mencuri dari rumah tetangganya.” (HR. Ahmad)

Agar tidak disalahpahami, hadits ini bukanlah berarti zina dan mencuri kepada selain tetangga tidak berdosa. Bahkan ia juga berdosa, sebagaimana dalam hadits di atas, para sahabat menjawab bahwa zina dan mencuri merupakan perbuatan yang haram dilakukan. Namun, perbuatan itu semakin keras ancaman dosanya ketika dilakukan terhadap tetangga. Tak Ternilai Harganya di Dunia dan Mendapatkan Surga di Akhirat

Tetangga yang baik memberikan kesejukan pandangan, ketenangan dan keamanan.
“Di antara kebahagiaan seorang muslim di dunia adalah tetangga yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Dikisahkan bahwa tetangga Sa’id bin Al-’Ash ditawar rumahnya dengan harga 100.000 dirham. Kemudian tetangga itu berucap kepada penawar, “Itu harga rumah, lalu berapa engkau akan membeli hidup bertetangga dengan Sa’id?” Ketika mengetahui peristiwa itu, Sa’id mengirim harga yang sama dan menyuruh tetap menempati rumahnya tersebut. Sungguh memiliki tetangga yang baik merupakan nikmat yang tidak ternilai harganya di dunia dan tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Tak hanya di dunia, tetangga yang baik akan mendapatkan surga di akhirat, yang di dalamnya terdapat segala nikmat yang diinginkan oleh jiwa.

Pernah ditanyakan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun malam dan berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti tetangganya melalui ucapan.” Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan baginya, dan dia termasuk penghuni neraka.” Kemudian para sahabat berkata, “Ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib, berseedekah dengan susu yang dikeringkan dan dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari tetangganya.” Maka Rasulullah menajwab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari)

Maka berlombalah saudariku untuk menjadi tetangga yang baik agar engkau mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Penyusun: Ummu Shofia Mutia Nova
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Jati Diri Wanita Muslimah (terj.) karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi yang diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar
Etika Muslim Sehari-Hari (terj.) karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com, diakses 3 Maret 2009
Taisirul Karimir Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
Shahih Bukhari yang diterbitkan oleh Darul Kitabil ‘Ilmiyyah Beirut
Fatawa Rasulullah, Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiw dn Ta’liq Syaikh
Qasim ar-Rifa’i, Ibnul Qayyim, Pustaka As-Sunnah.

Go Ihsan - Salah satu penyimpangan mendasar yang menjangkiti umat Islam ketika tenggelam dalam kubangan Perang Salib adalah kerancuan dalam memandang harta. Mereka tidak mengerti hikmah paling mendasar dari harta dan tidak mengetahui prioritas penggunaan harta sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat. Penyakit ini tidak hanya menjangkiti kaum kaya yang bergelimang harta, tetapi juga menjangkiti masyarakat miskin yang sama pula melencengnya dalam memandang harta. Itulah yang kemudian membuat Imam Al Ghazaliy mendaftar hal ini ke dalam lembar penyakit dalam diagnosanya ketika menyelami umat kala itu.

Dalam buku langka berjudul Hakadza Zhahara Jillu Shalahuddin wa Hakdza ‘Adad Al Quds, Dr. Majid ‘Irsan Al Kilani mengutip pandangan-pandangan Imam pioner gerakan Islah ini. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk menyembah dan mengenalNya, dia melintasi kehidupan dunia menuju akhirat yang merupakan tempat tinggal yang terakhir. Untuk itu dia harus menyikapi kehidupan dunia sesuai dengan tujuan tersebut.


Manusia harus membekali diri dengan benda-benda yang ada di dunia sebagaimana musafir menyiapkan bekalnya, sehingga dia hanya mengambil secukupnya sebagai bekal perjalanan menuju akhirat. Dia ibarat orang yang mau pergi ibadah haji dan mempersiapkan untanya, dia sibuk memberinya makan, membersihkan dan menutupi tubuhnya dengan kain yang indah, memberinya minum dan menjaganya sesuai dengan kadar kebutuhannya terhadap unta tersebut. 

Benda-benda yang ada di dunia ini tidak diciptakan melainkan hanya “untuk memberi makan kepada hewan tunggangan yang akan membawanya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala. Maksud hewan tunggangan di sini adalah tubuh (manusia) yang tidak mungkin dapat bertahan lama tanpa makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal, sebagaimana unta yang tidak mungkin sanggup menempuh perjalanan haji jika tidak diberi makanan, air, dan rumput.”

Manusia pada umumnya lupa dengan tujuan utama sehingga berhenti pada tahap persiapan saja. Akibatnya, dia seperti orang yang berangkat untuk melaksanakan haji lalu berhenti di salah satu peristirahatandan sibuk mengurus untanya seperti memberi makan, membersihkan, mengatur pakaian dan memberi minum sampai lupa bahwa rombongan telah berangkat meninggalkannya, sehingga dia dan untanya menjadi sasaran empuk binatang buas.

Hanya ada satu kelompok yang selamat dalam memandang dunia ini. Yakni kelompok yang mengikuti jejak Rasulullah Saw. dan para Sahabat. Jejak yang dimaksud adalah tidak mengingkari dunia secara total dan tidak menahan nafsunya secara total. Ia mengambil dari dunia sebatas bekal yang diperlukannya dan menahan nafsu yang melanggar batas ketaatan kepada syari’at dan logika, ia tidak mengikuti semua bentuk nafsu dan tidak pula meninggalkan seluruhnya melainkan mengikuti nafsu yang benar. Ia tidak meninggalkan urusan dunia dan tidak pula mencari seluruh urusan dunia melainkan tahu tujuan penciptaan setiap urusan dunia dan tidak keluar dari batas tujuannya.

Untuk itu, ia mengkonsumsi makanan sebatas yang diperlukan untuk memperkuat tubuh sehingga mampu beribadah, ia membuat tempat tinggal sebatas keperluannya untuk menjaga diri dari ancaman perampok dan melindunginya dari panas dan dingin, demikian pula dengan pakaian. Kemudian ketika hati tidak lagi sibuk dengan tubuh maka ia menghadap Allah dengan penuh semangat dan sibuk berzikir dan berpikir sepanjang umurnya. Ia tetap menjaga batas kesederhanaan dan keseimbangan nafsu agar tidak melanggar batas wara’ dan takwa.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang keseimbangan ini maka harus mengikuti jejak kelompok yang selamat (al Firqah an Najiyah) yaitu para Sahabat. Mereka hidup dengan pola yang lurus dan seimbang, tidak mengambil dunia untuk kepentingan dunia melainkan untuk kepentingan agama dan tidak mengingkari atau menjauhi dunia secara total. Mereka tidak memiliki pola hidup yang mengabaikan (tafrith) atau berlebihan (ifrath) melainkan hidup dengan pola sederhana dan seimbang yang sangat disukai oleh Allah Swt. (esqiel/muslimahzone.com)

Go Ihsan - Dalam hitungan hari, umat Islam di dunia akan kedatangan bulan penuh rahmat dan ampunan. Dalam momentum Ramadhan, semua Muslim akan melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Di bulan ini pula menjadi waktu yang tepat memperbanyak ibadah.


Ustaz Oemar Mita menjelaskan tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Sebab, Ramadhan merupakan bulan paling istimewa di antara 12 bulan. Untuk itu, Ustaz Oemar mengajak umat Islam mempersiapkan diri dengan maksimal. Itu disampaikan Ustaz Oemar dalam kajian Keislaman Alumni Lintas Angkatan SMA 70, Ghiroh 70, Bulungan, Keboyaran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (14/5). Puluhan jamaah yang hadir cukup antusias mengikuti ceramah dari Ustaz Oemar.

"Ramadhan tidak pernah sama dengan bulan yang lain. Ramadhan keutamaannya sangat besar sebagaimana bulan purnama," ujar Ustaz Oemar di Masjid SMA 70, Jakarta, Ahad (14/5). Menurut dia, Ramadhan menjadi indikator kebaikan seseorang, baik sebelum maupun setelah bulan suci tersebut. Orang yang mendapatkan keutamaan Ramadhan akan memperoleh kebaikan setelahnya.

Sebaliknya, jika seseorang tidak mendapatkan keutamaan Ramadhan maka dia akan gagal pada kehidupan selanjutnya. Artinya, Ustaz Oemar menegaskan, ibadah yang dilakukan selama Ramadhan mengalami kegagalan. Ustaz Oemar menambahkan, kegagalan mendapatkan keutamaan Ramadhan juga tidak lepas dengan perbuatan sebelum Ramadhan. Misalnya, mereka banyak melakukan larangan Allah SWT atau sering menjauh terhadap perintah-Nya. "Mengenal Allah jangan hanya di bulan Ramadhan saja," kata Ustaz Oemar.

Persiapan maksimal, kata Ustaz Oemar, merupakan hal wajib dilakukan guna mendapatkan keutamaan Ramadhan serta dampaknya ke kehidupan setelahnya. Pada bulan tersebut diimbau agar lebih khusyuk melaksanakan ibadah.

Ustaz Oemar menuturkan, sahabat mempersiapkan puasa enam bulan sebelum bulan tersebut tiba. Mereka memperbanyak berdoa kepada Allah SWT atas dosa yang dilakukannya. Selain iu, mereka juga berdoa agar dimampukan menjalankan ibadah dalam bulan tersebut. Persiapan panjang yang dilakukan sahabat, menurut Ustaz Oemar, menandakan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ramadhan dapat menjadi musim panen pahala bagi orang-orang yang bertakwa. Di samping itu, persiapan tersebut juga dilakukan karena mereka mengerti tentang keutamaan Ramadhan.

Namun, Ustaz Oemar menilai, umat Islam saat ini lebih banyak yang kurang paham tentang keutamaan Ramadhan. Akibatnya, mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas rutinitas yang wajib dilakukan setiap tahun. "Mengapa mereka mempersiapkan Ramadhan ala kadarnya? Karena tidak paham keutamaan Ramadhan," ucap Ustaz Oemar.

Menurut Ustaz Oemar, setidaknya ada dua hal keutamaan Ramadhan yang akan didapatkan oleh umat Islam, antara lain, Allah akan melipatgandakan pahala pada setiap amal yang dikerjakan di bulan tersebut. Saking besar pahalanya, kata Ustaz Oemar, Allah tidak menjelaskan detil pahala yang akan diberikan pada setiap amal.

Itu berbeda dengan amal lainnya yang dijelaskan oleh Allah tentang besaran pahala yang diberikan. Maka dari itu, Ramadhan merupakan bulan panen pahala jika mampu dimanfaatkan dengan baik. Keutamaan lainnya, Ramadhan merupakan waktu tepat melakukan pertobatan. Ustaz Oemar menganjurkan agar bertobat saat Ramadhan disertai dengan memperbanyak sedekah.

Kendati demikian, keutamaan Ramadhan tidak mudah diraih oleh setiap Muslim. Hal tersebut, menurut Ustaz Oemar, juga pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW. Banyak Muslim yang gagal melaksanakan ibadah pada bulan tersebut. Kegagalan tersebut disebabkan oleh kualitas puasa yang rendah. "Kualitas Ramadhan tidak berbanding lurus dengan kuantitas. Belum tentu berdampak ke ketakwaan. Padahal, kalau Ramadhan diterima, itu obat," jelasnya.

Untuk itu, Ustaz Oemar menegaskan, persiapan menyambut Ramadhan sangat penting. Seperti, memperbanyak istigfar serta memaksimalkan tobat. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, diyakini tidak akan menikmati Ramadhan. "Karena dosa menjadikan kenikmatan Ramadhan hilang," Ustaz Oemar menambahkan.

Kemudian, lanjutnya, umat Islam pun  mempersiapkan ilmu dan harta dalam menyambut Ramadhan. Harta tersebut diimbau untuk digunakan beribadah, seperti memperbanyak sedekah. Yusuf, salah seorang jamaah, mengatakan, kajian tersebut sangat bermanfaat kepada dirinya. Sebab, Yusuf merasa ibadah puasa yang dilakukan setiap tahun belum maksimal. Dari kajian ini, Yusuf berharap mendapatkan ilmu tentang Ramadhan.

"Ya, harapannya bermanfaat buat saya," ujar Yusuf kepada Republika.co.id.

Harapan sama juga disampaikan Amir. Persiapan menyambut Ramadhan harus dipersiapkan dengan matang. Tujuannya, supaya mendapatkan pahala maksimal ketika menjalankan ibadah. Amir tidak menginginkan ibadah puasa hanya sebatas aktivitas rutin yang wajib dilakukan selaku umat Islam. Amir berharap, bisa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. "Mudah-mudahan, bisa lebih baik lagi, banyak khatam Alquran," tegasnya. - Republika

Go Ihsan - Ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita bisa dilakukan dengan berbagai cara yang baik. Salah satu yang utama adalah dengan menggunakan Thibbun Nabawi, namun selain itu, seseorang juga bisa berikhtiar atas penyakitnya dengan bersedekah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Dawud, At Thabarani dan Al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al-AlBani dalam Shahihul Jami’).
Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

، ومعناه أن الصدقة علاج نافع مفيد يشفي الأمراض ويخفف الأسقام، ويؤيده قول النبيصلى الله عليه وسلم – (( الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار )) فلعل بعض الأمراض تحدث عقوبة على ذنب أصابه المريض ، فمتى تصدق عنه أهله زالت الخطيئة، فزال سبب المرض ، أو أن الصدقة تكتب له حسنات، فينشط قلبه بها ويخف مع ذلك ألم المرض، والله أعلم.

“Maknanya bahwa sedekah adalah pengobatan yang bermanfaat dan berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit serta meringankan rasa sakit (keluhan), hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa salllam, “Sedekah bisa menhapuskan dosa sebagaimana air mematikan api”. 

Bisa jadi sebagian penyakit yang menimpanya adalah hukuman atas dosa yang dilakukan oleh yang sakit. Maka ketika keluarganya mensedekahkan untuknya, hilanglah dosanya, maka hilanglah sebab penyakitnya, atau dengan sedekah ditulis baginya kebaikan-kebaikan, maka hatinya akan bersemangat dan menjadi ringan rasa sakitnya. Wallahu a’lam”.[ Fatawa Asy-Syar’iyyah fi masa’ilit Thibbiyah]


Abdur Ra’uf Al-Munawi rahimahullah berkata,

قال المناوي: “أمر بمداواة المرضى بالصدقة،وقد جرَّب ذلك الموفقون، فوجدوا الأدوية الروحانية تفعل ما لا تفعله الأدوية الحسيَّة

“Orang yang sakit diperintahkan sering-sering bersedekah… hal ini sudah terbukti bagi yang telah berhasil, mereka mendapatinya sebagai obat  (penyembuh) ruhaniyah yang ampuh dimana tidak didapatkan pada obat biasa.” [ Faidhul Qadhir 3/515]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
إن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو من ظالم، بل من كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به؛ لأنهم جرَّبوه

“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau dzalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereja telah membuktikannya.” [Al-Waabilus Shayyib hal. 49].

Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai.

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam “Shahih at-Targhib”).

Semoga, sedikit tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang sedang terkena musibah penyakit. Wallahu a’lam bish shawab.(Panjimas)


Diberdayakan oleh Blogger.