Go Ihsan - Presiden
Yahya Jammeh mendeklarasikan negaranya, Gambia -negara di Afrika barat, sebagai
negara Islam, pekan lalu. Tapi ia menegaskan bahwa hak-hak warga minoritas
Kristen akan tetap dihormati dan tidak akan ada aturan berpakaian atau dress
code bagi kaum perempuan.
Jammeh
mengumumkan deklarasi tersebut di hadapan para pendukungnya di kota pesisir
Brufut, Kamis (10/12) waktu setempat, tapi baru disiarkan televisi dan laman
kepresidenan Sabtu (12/12) waktu setempat.
“Nasib
Gambia berada di tangan Alloh Maha Besar. Mulai hari ini, Gambia adalah negara
Islam. Kami akan menjadi negara Islam yang akan tetap menghormati hak-hak
seluruh warganya,” ujar Jammeh, seperti dilansir pengumuman di laman
kepresidenan tersebut dan dikutip AFP, Minggu (13/12).
Dalam
tayangan pidatonya yang disiarkan GRTV, Jammeh tidak menjabarkan perubahan apa saja yang akan
terjadi bagi negara terkecil di Afrika daratan tersebut. Tapi ia menjamin warga
Kristen dan pemeluk keyakinan lainnya bisa beribadah tetap secara bebas.
“Warga
Kristen akan tetap dihormati hak-haknya. Cara mereka merayakan Natal pun tidak
akan berubah,” ujar dia.
Jammeh juga menegaskan, tidak satu orang pun berhak mencampuri kehidupan warga
lainnya. Dia juga mengingatkan bahwa negara tidak akan menerapkan dress code
terhadap perempuan.
“Tidak
akan ada polisi syariah. Cara perempuan berpakaian bukan urusan siapa pun,”
ujar dia.
Gambia
adalah negara bekas jajahan Inggris yang berbatasan langsung dengan Senegal.
Negara yang hanya seluas 10.689 km2 ini terkenal karena pantai-pantai pasir
putihnya. Populasinya kurang dari dua juta jiwa dan 90%-nya adalah Muslim.(BS)
Posting Komentar