Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Kabar Islam. Tampilkan semua postingan

Go Ihsan - Delegasi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bertemu dengan otoritas China untuk membahas berbagai isu penting seperti masalah Palestina, perkembangan di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta masalah Islamophobia dan situasi umat Islam di negara-negara bukan anggota OKI.


Dalam pernyataan tertulis OKI dikutip Anadolu, delegasi OKI kini tengah mengunjungi Beijing ibu kota China guna membahas beberapa masalah regional dan internasional dengan pejabat China selama seminggu.
Pertemuan tersebut akan menjadi pertemuan resmi kedua antara OKI dan China. Mereka akan membahas hubungan antara China dengan dunia Islam, masalah Palestina, masalah Israel-Palestina, isu Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afghanistan.
Pernyataan tersebut juga menyebut Penasehat Urusan Politik OKI Yusuf al-Dabii akan memimpin delegasi tersebut.
Selain itu, pejabat dari bagian urusan politik, pemerintahan minoritas, komunitas Muslim, dan komunikasi turut hadir dalam acara tersebut.
Pada April 2015, OKI dan China mengadakan pertemuan di Beijing untuk pertama kalinya guna membahas situasi minoritas Muslim di seluruh dunia.(Hidayah)

Go Ihsan -  Adanya tabloid politik yang menyasar masjid-masjid di Jawa Tengah ditanggapi oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas.
Anwar menerangkan bahwa media mengemban tugas suci, yakni menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mengungkap fakta yang sesungguhnya. Karenanya, ia menegaskan media harus adil serta tidak boleh mengembangkan hoax dan provokasi.
“Jangan menginjak satu, mengangkat yang satu (lainnya). (Tabloid) itu saya rasa bukan media,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai membuka acara Sarasehan Nasional “Penguatan Literasi Islam dan Kebangsaan Generasi Milenial” di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, pada Kamis (24/01/2019).
Anwar mengimbau kepada pengurus masjid untuk kritis serta menahan dan tidak menyebarkan media yang isinya hoax.

“(Sebab) menurut MUI, menyebarkan hoax itu sama hukumannya dengan yang membuat hoax,” ujarnya.
Sebelumnya diwartakan, sebuah tabloid dengan framing berita yang diduga sengaja menyerang Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah. Tabloid tersebut dikirim ke masjid-masjid dengan bungkus amplop cokelat.
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah mendapatkan informasi tabloid bernama “Indonesia Barokah” tersebut ada di Kabupaten Blora, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Magelang. Rata-rata setiap masjid dikirimi tiga eksemplar.
“Ada pengiriman tabloid rata-rata 1 masjid 3 eksemplar yang dibungkus amplop cokelat yang dikirim ke Masjid,” kata Koordinator Divisi Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Jawa Tengah Rofiuddin kutip Detikcom, Selasa (21/01/2019).
Dalam amplop yang dikirim ke masjid disebutkan alamat pengirim berada di Pondok Melati, Bekasi. Rofi menjelaskan pihaknya mendapatkan laporan karena ada dugaan framing berita yang bisa merugikan capres tertentu.
“Tabloid ini kalau dilihat ada berita yang arahnya bercampur opini dan juga ada semacam permainan framing sehingga menguntungkan atau merugikan capres tertentu,” jelasnya.
Dalam headline halaman pertama ditulis judul “Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?” kemudian di kolom Liputan Khusus ada berita berjudul “Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik?” dengan karikatur Ratna Sarumpaet, Fadli Zon, Sandiaga Uno, dan Prabowo Subianto. Sebagian artikel juga membahas tentang agama.
Rofi menjelaskan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dewan Pers karena pengawasan dan pemantauan media dilakukan Dewan Pers. Ia berharap masyarakat tetap tenang dengan beredarnya tabloid tersebut.
“Dari sisi Dewan Pers bisa teliti dan analisis kategorinya apa. Apakah sesuai standar jurnalistik, bercampur opini, framing tertentu, atau apa. Kemungkinan kedua bisa analisis status badan hukumnya,” jelas Rofi.
“Posisi Bawaslu memberikan fakta ada tabloid yang sebelumnya tidak ada terus tiba-tiba ada dan menyasar Jawa Tengah. Informasinya di masjid-masjid disimpan, tidak diedarkan,” imbuhnya.
Saat ini pengkajian masih dilakukan dan menurut informasi tidak hanya di Jawa Tengah, di Jawa Barat pun tabloid serupa juga ditemukan.(Hidayah)

Go Ihsan -  Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas, menegaskan, literasi bangsa Indonesia harus berdasarkan yang haq (kebenaran) dan dijauhkan dari hoax serta hal-hal yang tidak benar.


Literasi, tambahnya, juga harus berdasarkan keilmuan. Ilmu itulah yang harus bertugas menjelaskan itu semua.
“Inilah arti dan manfaat Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) MUI,” ucapnya saat membuka acara Sarasehan Nasional “Penguatan Literasi Islam dan Kebangsaan Generasi Milenial” di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, pada Kamis (24/01/2019).
MUI berharap Islam dan kebangsaan tidak dibenturkan dalam hal ini khususnya lewat literasi.
MUI, kata Anwar, ingin buku-buku yang ada tidak membenturkan Islam dan kebangsaan. Sebab ia melihat ada sebagian kalangan tertentu yang berusaha mempertentangkan keduanya.
“Islam sebelah sana, kebangsaan sebelah sini. Kebangsaan sebalah sana, Islam sebelah sini. Saya rasa tidak ada ceritanya ini,” ujarnya.
Kalau konsisten dengan falsafah Pancasila, lanjut Anwar, maka siapapun dan dimanapun posisinya, mereka harus menghargai bahwa sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Karenanya, ia menegaskan, tidak boleh ada perkataan yang bertentangan dengan sila pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima Pancasila.
Sementara itu, ia melihat, literasi saat ini banyak yang bertentangan dengan Pancasila. Seperti, ia mencontohkan, buku ekonomi yang mengajarkan kapitalisme dan liberalisme, atau mengajarkan pikiran sosiolog yang sekular.
“Kalau begitu, maka negeri ini menurut saya tidak akan semakin mendekat pada negara yang berfalsafahkan Pancasila, tapi bergerak ke arah liberalisme, kapitalisme, dan sekularisme,” ujarnya.(Hidayah)

Go Ihsan -  Dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN), Jalan RA Kartini, Makassar, Senin (21/1/2019), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut bos Abu Tours, Hamzah Mamba dengan kurungan 20 tahun penjara. Hamzah Mamba dianggap melakukan penggelapan dan pencucian uang Rp 1,2 trilun milik jemaahnya.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Haji Hamzah Mamba, alias Pak Abu alias Hamzah, dengan pidana penjara selama 20 tahun serta denda sebesar Rp 100 juta subsider 1 tahun kurungan,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darmawan Wicaksono saat membacakan dakwaannya.

Mendengar dakwaan ini, Hamzah Mamba yang mengenakan rompi tahanan warna oranye hanya terdiam. Darmawan pun mengatakan Hamzah Mamba diduga melanggar Undang-undang pencucian uang.
“Pasal 372 juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto pasal 64 ayat (1) ke 1 KUHP tentang penggelapan serta pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto pasal 64 ayat (1) ke 1 KUHP,” sebut Darmawan.
Setelah putusan dibacakan, puluhan jemaah yang hadir dalam persidangan ini langsung berteriak memprotes tuntutan jaksa. Mereka menganggap tuntutan ini terlalu ringan. “Jaksa tidak adil! Harusnya seumur hidup. Saya tidak terima, harus dihukum lebih berat,” teriak jemaah di dalam ruangan sidang.
Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Tri Metty Margaretta Siboro mengatakan bahwa jawaban atas tuntutan ini akan diberikan saat sidang dengan agenda pledoi nanti. Sidang yang dipimpin oleh majelis hakim Denny Lumban Tobing akan kembali digelar pada Kamis (24/1)) mendatang. (Panji)

Go Ihsan -  Narapidana terorisme kasus bom Bali, Abu Bakar Baasyir sudah bisa mendapatkan pembebasan bersyarat karena telah menjalani dua per tiga masa hukumannya. Namun, Ba'asyir menolak menandatangani pernyataan untuk setia pada Pancasila dan tidak mengulangi tindak pidananya.

Menanggapi hal itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud mengatakan, tidak ada yang bertentangan antara Islam dan Pancasila. Menurut dia, dari sila satu sampai sila lima itu sudah dijelaskan semua dalam Alquran.
Karena itu, menurut dia, jika Ba'asyir tetap menolak Pancasila sebagai ideologi negara, mungkin pikirannya belum sesuai dengan ajaran Islam. "Nah mungkin juga ketika Abu Bakar Ba'asyir itu belum mau mengakui Pancasila sebagai dasar negara, karena dipikirannya mungkin belum sesuai dengan ajaran Islam," ujar KH Marsudi saat dihubungi Republika.co.id, Senin (21/1).

Menurut dia, Ba'asyir selama ini mendapatkan hukuman atas kasus terorisme dikarenakan memang tidak sepaham dengan Pancasila. Namun, kini Ba'asyir terpaksa dibebaskan oleh pemerintah dikarenakan alasan kemanusiaan.
"Dia sendiri kan dihukum antara lain karena dia belum sepaham dengan ini. Tapi ketika keluar dari hukuman ini, itu hal yang lain juga, karena persoalan kemanusiaan," ucapnya.
Dia mengatakan, orang semacam Ba'asyir mungkin masih ada di Indonesia, yang tidak dengan tegas mengakui Pancasila. Karena itu, pemerintah Indonesia harus terus memberikan pemahaman terkait ideologi negara tersebut, khususnya terkait korelasi antara agama dan Pancasila.
"Yang semacam inilah tugas pemerintah untuk memberi pemahaman tidak hanya sekadar ke Abu Bakar Ba'asyir tapi ke yang lain juga," kata KH Marsudi.
Ba'asyir divonis bersalah dengan pidana 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2011. Ba'asyir dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk melakukan tindak pidana terorisme di Indonesia.
Seharusnya dia baru bebas murni pada 2022. Namun, pada pekan ini Ba'asyir rencananya akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan. KH Marsudi pun tidak mempermasalahkan pembebasan Ba'asyir tersebut.
"Dia punya hak untuk dibebaskan karena aturan-aturannya membolehkan. Bagi saya dengan dibebaskannya beliau, itu haknya presiden juga dibebaskan dan memang pada kenyataannya beliau sudah tua dan sakit-sakitan," jelas KH Marsudi. (Repl)

Go Ihsan - Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai pembebasan tanpa syarat terhadap terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir sarat kepentingan politik. Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut sebagai manuver politik.

"Apalagi dengan tagline yang membebaskan adalah pengacara TKN (Yusril Ihza Mahendra) jelas ini adalah satu manuver politik. Jadi ini adalah sesuatu manuver politik untuk mendapatkan simpati," ujar Fadli, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/1/2019). 

Waketum Gerindra itu menduga pembebasan Ba'asyir itu sebagai upaya Jokowi untuk mendapatkan simpati umat Islam di masa Pilpres 2019. Namun, Fadli yakin upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil.

Apalagi, banyak tokoh-tokoh ulama lain yang hingga kini statusnya belum jelas. Misalnya seperti kasus Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab.

"Mungkin inginnya dapatkan simpati dari umat Islam gitu seperti itu tapi sangat terlalu kental nuansa politiknya. Sementara kalau kita lihat banyak sekali tokoh-tokoh umat Islam para ulama yang justru dikrimininalisasi mulai dari Habib Rizieq ketika itu bahkan banyak sampai sekarang yang statusnya belum jelas," tuturnya. 

"Kemarin saya juga kunjungan kerja ke Lapas Porong di Surabaya melihat saudara Alfian Tanjung yang sudah dibebaskan kemudian ditahan kembali dan sudah hampir dua tahun dan banyak lagi tokoh-tokoh yang saya kira diperlakukan secada diskriminatif dan dikrimininalisasi. Jadi kalau harapannya dengan pembebasan itu akan mendapatkan dukungan simpati dari umat Islam saya kira itu akan gagal," sambung Fadli. 

Fadli menilai pembebasan Ba'asyir dijadikan alat politik oleh pemerintah. Mengingat, seharusnya Ba'asyir dapat dibebaskan dengan syarat sejak Desember 2018. 
"Ini mempermainkan hukum, hukum dijadikan alat politik. Jadi saya kira itu akan gagal kalau mau ingin mendapatkan simpati, karena rakyat semakin cerdas bhawa apa yang dilakukan kepada Abu Bakar Ba'asyir memang secara hukum sudah bisa dibebaskan sejak bulan Desember lalu kalau menurut pengacaranya," katanya. 

Perlu untuk dicatat, Ba'asyir akan bebas tanpa melalui mekanisme bebas bersyarat. Ba'asyir menolak mengajukan permohonan bebas bersyarat karena tidak mau meneken surat setia pada NKRI sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Permenkum HAM Nomor 3 Tahun 2018. Meski begitu, Presiden Jokowi tetap memberikan kebebasan untuk Ba'asyir atas pertimbangan kemanusiaan.(Dtk)

Go Ihsan -  Pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir, yang mendekam di penjara dalam kasus terorisme, dijadwalkan akan segera dibebaskan setelah persyaratan bebas bersyarat "diringankan" dengan menekankan ia hanya akan "taat kepada Islam."
Pemilihan kata-kata dalam surat pernyataan itu, menurut Yusril Ihza Mahendra, penasihat hukum pasangan calon presiden/wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin, disepakati setelah Ba'syir menolak menandatangani dokumen pembebasan bersyarat yang mencakup taat kepada Pancasila.
"Yang harus ditandatangi Pak Ba'asyir agak berat bagi beliau karena beliau punya keyakinan yang dipatuhi hanya Allah, hanya Tuhan dan beliau menyatakan hanya taat kepada Islam. 'Jadi kalau saya diminta tanda tangan taat kepada Pancasila, saya tak mau'", kata Yusril tentang isi percakapannya dengan Ba'syir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor.
"Beliau hanya ingin taat kepada Islam dan kita memahaminya...Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila dan tak mau berdebat panjang dengan Pak Ba'asyir," tambah Yusril dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Jumat (18/01).


Ba'asyir telah menjalani hukuman selama sembilan tahun dari 15 tahun hukuman penjara karena dinyatakan bersalah pada Juni 2011 dalam kasus mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.
Ulama berusia 81 tahun ini sebelumnya ditahan di Nusakambangan, Cilacap, namun dipindahkan ke LP Gunung Sindur, Bogor dengan alasan kesehatannya menurun.
Yusril mengatakan Ba'asyir telah mendapatkan remisi tiga kali dan berhak untuk bebas bersyarat dan menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo untuk membebaskannya dari penjara dengan "pertimbangan kemanusiaan" karena "sudah berusia 81 tahun dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun, dengan pembengkakan kakinya yang berwarna hitam."
Proses administrasi pembebasan Ba'asyir tidak memakan waktu lama namun dia sendiri meminta waktu tiga sampai lima hari untuk berkemas, kata Yusril.

Tak lagi mendukung ISIS

Peneliti terorisme Sidney Jones menyatakan Ba'asyir sempat dibaiat sebagai pengikut gerakan yang menamakan diri ISIS, yang muncul saat Ba'asyir sudah di dalam penjara.
Namun Sidney menyatakan pengaruh dua putra Ba'asyir menyebabkan ulama ini tak lagi menjadi pendukung gerakan kekhalifahan itu.
"Melalui pengaruh anaknya Ba'asyir tak lagi pro ISIS... jelas anaknya Abdul Rochim dan Abdul Rosyid tidak mendukung ISIS. Itu bisa berarti bahwa mereka bisa memengaruhi bapaknya dan kalau begitu, mungkin tak jadi risiko kalau sudah bebas. Karena jelas unsur pro-ISIS adalah kelompok yang paling berbahaya di Indonesia sekarang ini," kata Sidney.
Putra Ba'asyir Abdul Rochim yang ikut mendampingi Yusril Ihza Mahendra mengatakan ayahnya akan langsung pulang ke Solo setelah dibebaskan, "kemungkinan Senin atau Selasa."
Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba'asyir ditetapkan sebagai tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006, ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan tuduhan terkait pendirian kelompok militan di Aceh.
Ba'asyir ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus serangan bom di Bali pada 2002. Ia divonis 2,6 tahun penjara setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus itu.
Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2012 ditetapkan oleh Departemen Luar Negeri AS, dalam daftar organisasi teroris asing (FTO).
Saat itu, JAT dicurigai terlibat dalam berbagai kejahatan antara lain perampokan bank untuk mendanai kegiatan mereka, termasuk serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, Jawa Tengah tahun lalu dan sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat.
JAT didirikan oleh Ba'asyir setelah keluar dari Jemaah Islamiah, yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 dan beberapa kasus terorisme.(BBC)

Go Ihsan -  Pimpinan Arrahman Qur’anic Learning  (AQL) Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) melepas keberangkatan Diaspora Uighur untuk menyalurkan bantuan ke daerah terdampak tsunami Selat Sunda di Pandeglang, Banten.

“Saya ingin mengucapkan selamat jalan kepada Seyyit Tumturk, Abdul Kadir Tumturk, Gulbakhar Cililova, thank you for coming to Indonesia, have a nice trip, I think you are success Insyaa Allah,” ungkap Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) yang akrab disapa UBN itu kepada rombongan Uighur di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2019).

Rombongan yang dipimpin Seyyit Tumturk ini seperti dilansir INA News Agency–sindikasi berita bentukan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)–rencananya akan menyalurkan bantuan berupa hunian tetap (Huntap). Untuk di Pandeglang sendiri, diaspora Uighur melalui AQL Peduli akan membuat Huntap di lima titik.
“Kita akan salurkan bantuan dari Uighur ini berupa Hunian Tetap, di daerah Kujang dan Cikoneng desa Tanjungjaya, dua RT di desa Sumber Jaya Kecamatan Sumur, dan di Tamanjaya Kecamatan Sumur,” ujar Ketua AQL Peduli, Firman, sebelum rombongan berangkat.
Firman menjelaskan, di lima titik itu, Huntap yang dibangun totalnya senilai Rp 350 juta. Sementara untuk daerah Lampung, akan dibangun huntap dengan nilai Rp100 juta.
Rencananya, setelah menyalurkan bantuan, rombongan Uighur ini akan langsung bertolak ke Turki pada Selasa malam. [Panji]

Go Ihsan - Viral Video berdurasi 1.34 menit menyebar di Tasikmalaya. Dalam video tersebut nampak anak kecil berusia 11 tahunan sedang dibimbing membaca dua kalimat Syahadat (mualaf). Para santri pun nampak mengelilingi dan langsung mengucap rasa syukur ketika pembacaan Kalimat Syahadat selesai ditirukan anak tersebut.

Dari berbagai informasi, video itu menggambarkan tentang prosesi masuk Islam (mualaf) yang dilakukan di Masjid Pondok Pesantren KH Zainal Mustofa Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya. Seorang anak dari Bekasi yang sebelumnya beragama Budha memilih menjadi Muslim.
“Ya kemarin Minggu (13/1/2019) dilakukan prosesi pembacaan kalimah syahadat (mualaf) terhadap anak dari Bekasi. Kedua orang tuanya datang kesini (Sukamanah) meminta anaknya disyahadatkan,” kata Pimpinan Pondok Pesantren KH Zainal Mustofa Sukamanah, KH Atam Rustam melalui sambungan telepon, Senin (14/1/2019).
Menurut Atam, dirinya sendiri yang membimbing langsung pembacaan Syahadat (mualaf) disaksikan petugas Kementerian Agama dan santri. Pelaksanaan selepas Asar setelah Salat selesai. “Namanya Calvin. Datang kesini diantar orang tua angkatnya,” ujar Atam.
Atam yang juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya ini belum bisa berterus terang bagaimana awal mula Calvin ingin masuk Islam dan ingin mesantren di Sukamanah.
Dia menjawab singkat bahwa Ayah angkat Calvin masih tetap beragama Budha. “Anak tersebut sudah diganti nama menjadi Isham Musthafa Najih dan mondok di Pesantren ini juga,” tuturnya.’ (Era)

Go Ihsan - Meskipun Prabowo Subianto telah mengakui punya pengetahuan yang minim tentang Islam, belum menjalankan ritual Islam dengan baik, dan tumbuh di lingkungan abangan, toh banyak tokoh dan ormas Islam tetap mendukungnya. Kenapa?

Tentang hal ini, Ustaz Ansufri Idrus Sambo, yang pernah menjadi guru mengaji Prabowo, punya penjelasan. Menurut dia, komitmen Prabowo terhadap Islam sudah diperlihatkan sejak menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Hal itu terlihat dalam diskusi-diskusi Prabowo dengan sejumlah tokoh pergerakan Islam, seperti Ahmad Sumargono dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) serta KH A Kholil Ridwan dari Dewan Dakwah Islamiyah. 

Dalam sebuah ceramah di Markas Kopassus, Cijantung, kata Sambo, Prabowo pernah mengungkapkan komitmennya terhadap Islam. Sebagai warga mayoritas, dia mengidamkan kaum muslim mewarnai betul segenap kehidupan berbangsa dan negara. Sebab, kalau muslim kuat, otomatis NKRI akan kuat. "Jadi, Islam di Indonesia itu ibaratnya tulang punggung negara," kata Sambo mengenang pernyataan Prabowo.
Selain itu, putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu pernah mengungkapkan, bila terjadi perselisihan antara tentara dan umat Islam, dirinya akan lebih berpihak kepada Islam ketimbang profesinya sebagai tentara. 
"Kita takbir semua yang mendengarnya. Jadi, Prabowo itu nggak bisa dilepaskan dari Islam. Jadi kenapa kami mendukung Prabowo, ya, karena komitmennya itu, bukan soal ritualnya," kata Sambo.
Komitmen Prabowo terhadap Islam juga diperlihatkan dengan melindungi banyak tokoh Islam dari upaya-upaya pemberangusan pihak-pihak tertentu di bawah kendali Jenderal LB Moerdani, yang disebutnya anti-Islam. "Motor gerakan Islam di tubuh militer itu, ya, Prabowo," ujar Sambo.(Dtk)

Go Ihsan - Pendiri Majelis Zikir Adz Dzikra terbaring lemah di rumah sakit. Sejumlah pejabat seperti Gubernur DKI Anies Baswedan dan Kapolri Tito Karnavian telah menjenguk Ustaz Arifin di RSCM, kemarin
Keduanya mendoakan kesembuhan Ustaz Arifin agar bisa beraktivitas seperti semula. 
Di media sosial ucapan doa tak henti-hentinya mengalir dari Twitter, Facebook maupun Instagram.
Di laman resmi Ustaz Arifin Ilham di Facebook, doa disampaikan pengguna di kolom komentar status terakhir pendiri Majelis Adz-Zikra itu pada 4 Januari lalu.

"Ya Allah sesungguh nya Tuan Guru kami KH Arifin Ilham ditimpa sakit ya Allah engkau Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang sembuhkan sehatkanlah Tuan Guru kami KH Arifin Ilham ...amiin," tulis pengguna dengan akun Rizza Fabregas.
Akun lain, Zalika Bela, mendoakan agar Ustaz Arifin Ilham diberikan kemudahan untuk terus berjihad dan berdakwah di jalan Allah. Ia juga sempat bertanya-tanya soal ketidakhadiran Ustaz Arifin saat dzikir pagi. 
"Assalamualaikum wr wb Ustadz... Mudah2an sll dlm perlindungan ALLAH SWT. Ustadz sdg sakit kah? hingga tdk bs hadir pd dzikir akbar pagi ini? Terus berjihad dakwah dan hijrah ustadz Doa kami terus utk para murabbi dan ulama negeri ini utk keselamatan dunia dan akhirat Aamiin YRA," tulisnya.
Tak jauh berbeda dengan di Facebook, di Twitter, ucapan doa untuk kesembuhan Arifin Ilham juga mengalir.  "Kami turut mendoakan smg ustadz Arifin Ilham cepat sembuh dan memimpin majelis zikir lagi. Aamiin," kicau akun Medi Bazargan.
Ustaz Muslih dari Majelis Adz-Dzikra mengatakan, sudah menjenguk Ustaz Arifin Ilham, Senin malam (7/1). Saat dijenguk, kondisi Arifin Ilham masih terkulai lemah di rumah sakit. "Keadaan beliau masih sangat lemah dan belum bisa diajak komunikasi," kata Ustaz Muslih saat dihubungi.
Ia menyampaikan, Ustaz Arifin Ilham saat ini sangat butuh didoakan karena akhir-akhir ini kesehatan kerap menurun. Terlebih lagi, ia merupakan penyintas kanker getah bening stadium 4A. "Saat ini beliau butuh istirahat untuk pemulihannya," ujar dia.
Beberapa waktu yang lalu, Ustaz Arifin Ilham sempat memimpin zikir nasional yang diadakan Harian Republika pada malam pergantian tahun. Ketika memimpin zikir, dirinya sudah terlihat tidak fit, suaranya lebih serak, dan pelan.
Meski begitu, kalimat zikir yang keluar dari mulutnya tetap bergema hingga jamaah Masjid At-Tin larut dalam lantunan kalimat pujian kepada sang Khalik.(Rep)

Go Ihsan - Ustaz Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjend Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) yang juga Alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir, Bidang Tafsir Al-Qur’an, menyambut baik buku berjudul “Tafsir al-Misbah dalam Sorotan, Kritik terhadap karya Tafsir M Quraish Shihab” (Penerbit Pustaka Al Kautsar), yang ditulis oleh Dr. Afrizal Nur.


Dalam akun facebooknya, Ustaz Fahmi Salim mengatakan, Al-Qur’an memang mutlak kebenarannya. Lafazh dan maknanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia pula yang akan menjaganya sampai Hari Kiamat. Meski kebenaran Al-Qur’an itu mutlak, tetapi tafsiran atas Al-Qur’an belum tentu benar secara mutlak.

“Meski sudah lolos kualifikasi dan kompetensi keilmuan, seorang mufassir juga memiliki keterbatasan. Karya ilmiah manusia tak ada yang sempurna, 100% benar, tetapi semuanya tunduk pada kritik. Dalam tradisi keilmuan Islam, sudah lazim adanya dialektika keilmuan yang bersifat kritis. Suatu karya ilmiah diberikan penjelasan (syarh), pendalaman masalah (taqrir), komentar (ta’liq), verifikasi (tahqiq), dan catatan pinggir (hasyiyah) oleh ulama lainnya, baik yang hidup sezaman dengannya atau yang hidup sesudahnya.”
Dikatakan Ustaz Fahmi Salim, kritik dan koreksi biasanya dilakukan disela-sela aktivitas ilmiah tersebut. Bahkan, koreksi seorang ulama atas karya ilmiah ulama sebelumnya dijadikan karya tulis khusus, seperti yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah saat menulis kitab Ar-Radd ‘ala Al-Manthiqiyyin, Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah fii Naqd Kalam Al-Qadariyah wa As-Syiah, Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim fi Mukhalafat Ashab Al-Jahim, Dar’u Ta’arudhi Al-Aql wa An-Naql, dan lain sebagainya.
“Tidak sedikit umat yang bertanya kepada kami tentang Tafsir Al-Mishbah karya Prof.Dr.M Quraish Shihab. Kami katakan, sebagai karya ilmiah bidang tafsir Qur’an, tentu ada plus dan minusnya. Mereka yang menyanjung dan memuji karya tersebut tentu sudah banyak, meskipun tidak ditulis oleh mereka aspek apa saja yang dipuji.”
“Namun begitu, menurut kami, gaya bahasa yang renyah, pilihan diksi terjemah dan tafsir atas kosa kata Al-Qur’an yang banyak terinspirasi dari Prof. Aisyah binti Syathi’, istri dari Prof. Amin Al-Khuli, yang berorientasi “bayani”, ditambah pengaruh pemikiran Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar yang berorientasi “adabi ijtima’i” dapat dikatakan sebagai aspek yang banyak dipuji oleh kalangan yang mengagumi Tafsir Al-Mishbah ini.”
Namun tak sedikit ulama dan dai yang menyoal pandangan penulis Tafsir Al-Mishbah ini, terutama dalam hal yang terkait dengan jilbab, pengaruh fikrah tasyayyu’ (Syiah), dan lain-lain yang cukup mengemuka dalam karya tafsir setebal 15 jilid ini.
“Maka di tengah situasi era digital dan millennial, sikap kritis yang ilmiah dan mencerahkan, dengan bahasa yang obyektif dan jauh dari kata-kata umpatan, cacian, dan hujatan, sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan umat dalam rangka membimbing umat ini menuju kebangkitan Islam yang kita cita-citakan bersama.”
Karena itu, buku yang ditulis Afrizal Nur sangat dinanti banyak kalangan untuk menjernihkan secara ilmiah terkait rumor dan kontroversi seputar Tafsir Al-Mishbah. “Kami menyambut baik terbitnya buku ini, dengan harapan semoga umat Islam semakin tercerahkan dengan karya-karya ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhirul kalam, semoga Allah Swt menjadikan karya ilmiah ini sebagai amal jariyah bagi penulis, penerbit, dan siapa saja yang terlibat dalam kelahiran buku ini,” harap Ustaz Fahmi Salim. (Panji)

Go Ihsan -  Pengurus Pimpian Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022 resmi dilantik. Ketua Pemuda Muhammadiyah terpilih, Sunanto menyatakan kepengurusannya akan mengembalikan nilai-nilai Muhammadiyah.

Cak Nanto, panggilan akrab Sunanto, mengatakan ada tiga hal yang harus dipegang oleh kader Muhammadiyah yakni kebangsaan, keumatan dan persyarikatan. “Sehingga yang diharapkan adalah kader- kader yang terjun ke dunia politik dapat membawa nilai Muhammadiyah ke dunia politik. Akan tetapi saat ini justru sebaliknya banyak politisi yang membawa urusan politik di tubuh Muhammadiyah,” kata Sunanto dalam acara Pelantikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Aula KH Ahmad Dahlan, Gedung Muhammadiyah Pusat, Menteng, Jakarta, Jumat (28/12/2018).

Dia menolak adanya pihak-pihak yang berupaya menentukan arah kiblat politik Pemuda Muhammadiyah. Menurut Nanto, persoalannya bukan siapa yang memimpin, tapi bagaimana menjadikan Indonesia ini bangkit sesuai yang diharapkan. Pemuda Muhammadiyah siap membantu pemerintah dalam menjalankan tugas membangun Indonesia.
“Pemuda Muhammadiyah mencoba berfikir mau kemana arah bangsa ini, bukan siapa yang memimpin. Berikan 20 persen pekerjaan Pemerintah, insyaallah kita mampu menjalankannya. Kalau diberikan 100 persen pekerjaan pemerintah, kita gak akan kuat,” ujarnya.
Dia melanjutkan kepengurusan Pemuda Muhammadiyah ke depan bertekad akan mengembalikan nilai-nilai Muhammadiyah sesuai khitahnya. Pasalnya ia melihat banyak warga Muhammadiyah yang sudah mulai kehilangan ruh kulturalnya. Antara lain terkait kepatuhan warga Muhammadiyah kepada pimpinan dan keberlangsungan di setiap ranting Muhammadiyah.
Sunanto terpilih sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah dalam Muktmar yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) beberapa waktu lalu. Acara Pelantikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dihadiri oleh Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, Menteri Pendidikan dan Keudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dan Ketua Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman.(Kiblat)

Go Ihsan - Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon menyebut diplomasi luar negeri Indonesia melempem di masa pemerintahan Jokowi. Ia menilai, Jokowi juga tidak menaruh perhatian pada persoalan-persoalan Internasional seperti diskriminasi muslim Uighur.

“Kelihatan sekali politik luar negeri di era pemerintahan pak Jokowi ini sangat melempem dan tidak menunjukkan kapasitas sebagai negara besar. Negara kecil saja menurut saya berani untuk mengambil suatu sikap,” kata Fadli Zon saat menjadi pembicara di diskusi media ‘Mengungkap Fakta Pelanggaran HAM Terhadap Etnis Uighur’ pada Kamis (20/12/2018).

Fadli melihat, saat ini Indonesia tidak mengambil sikap politik untuk berperan aktif dalam menyikapi kasus-kasus yang langsung menjadi fokus umat Islam. Mestinya, kata dia, kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan mempunyai mandat konstitusi dalam politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.


“Oleh sebab itu, seharusnya kita berperan lebih maju untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai kepedulian, dan kita ini pemimpin di negara-negara itu,”imbuhnya.

Menurut Fadli Zon, dengan sikap politik untuk aktif berperan Indonesia harusnya bisa menjadi referensi negara-negara lainnya. Ia menyebutkan, negara-negara di timur tengah dan negara-negara yang berpenduduk muslim yang cukup besar di belahan asia, afrika, eropa mempunyai harapan besar pada Indonesia untuk memimpin dalam menyikapi isu-isu tersebut.

“Mereka berharap Indonesia bisa memimpin dalam isu-isu ini untuk ikut berperan aktif dalam penyelesaian konflik. Atau kalau ada pelanggaran hak asasi manusia tentu kita ikut mengecam dan bahkan mencari solusi,”ungkapnya.

Fadli pun mengakui, kini posisi tersebut telah diambil oleh negara lain seperti Turki. Dia mencontohkan beberapa waktu lalu, Turki menyelenggarakan liga parlemen Al-Quds dalam menyikapi Palestina. Liga Parlemen tersebut menghimpun berbagai negara-negara baik dari sisi pemerintahan maupun parlemen.

“Tetapi kalo kita lihat Indonesia sekarang ini seperti negara-negara kecil, seperti Banana Republic yang tidak ada suaranya di forum-forum Internasional dan tidak terlihat bahwa kita punya diplomasi yang tangguh,”ujarnya lagi. (Kiblat)

Go Ihsan - Aksi Bela Muslim Uighur berlangsung di berbagai di Indonesia pada Jumat (21/12/2018). Selain Jakarta, aksi tersebut juga berlangsung di Banda Aceh, Solo, Yogyakarta, hingga Makassar.

Aksi Bela Muslim Uighur di Jakarta dipusatkan di depan Kantor Kedutaan Besar Republik Rakyat Cina (RRC) di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Aksi tersebut melibatkan sejumlah elemen, seperti Persaudaraan Alumni 212, FUI, PAHAM, dan FPI, serta berbagai NGO kemanusiaan seperti ACT, Onecare, Syam Organizer, dan MRI.

Di Banda Aceh, aksi damai Aceh Bela Muslim Uighur dipusatkan di Masjid Baiturrahman. Aksi yang diikuti oleh ratusan orang itu diwarni dengan ceramah dan orasi tokoh-tokoh setempat.


Aksi Bela Muslim Uighur juga berlangsung di Medan, Sumatera Utara. Aksi yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Sumatra Utara itu menyerukan tagar #SaveUYGHUR. Peserta aksi melakukan longmarch menuju Konsulat Jenderal Cina di Medan.

Kepedulian terhadap muslim Uighur juga ditunjukkan warga Lampung. Aksi damai bertajuk Bela Muslim Uighur digelar di Tugu Adipura, Bandar Lampung, seusai shalat Jumat.
Selanjutnya, aksi bela Uighur juga diadakan di Pangkal Pinang, Bangka Belitung dan difokuskan di Taman Mandara, Pangkal Pinang. Seruan aksi save muslim Uyghur mendesak pemutusan hubungan RI dengan Cina. Aksi itu juga diwarnai longmarch dari Taman Mandara, Jalan ahmad yani, Jalan Masjid Jami, Jalan Jendral Sudirman, Jalan RRI, kemudian kembali ke taman mandara. Acara ini diadakan oleh komunitas Rindu Islam Bangka Belitung.

Sementara Aksi Solidaritas Bandung Untuk Muslim Uyghur menyerukan perlawanan kezaliman terhadap muslim Uighur. Dengan titik kumpul di Masjid Pusdai peserta aksi memusatkan diri di Gedung Sate, Bandung. Sejumlah elemen bergabung dalam aksi ini, di antaranya Kodas, Explore, Fun Taklim, Brigade Masjid, Dewan Dakwah Islam Indonesia, dan sejumlah lembaga lainnya.

Kepedulian terhadap muslim Uighur juga ditunjukkan masyarakat Cirebon, Jumat (21/12/2018). Mereka menggelar aksi solidaritas dengan tema Bebaskan Uighur Berislam. Dimotori ACT, aksi itu melibatkan eleman Islam setempat.

Di Solo, Aksi Bela Muslim Uighur dimotori oleh Dewan Syariah Kota Surakarta. Ribuan peserta aksi melakukan longmarch dari Masjid Attaqwa menuju ke Bundaran Gladak. Mereka menuntut Jokowi bersikap tegas menuntut Cina menghentikan penindasan terhadap muslim Uighur.

Umat Islam Yogyakarta tak ketinggalan menggelar aksi serupa. Aksi dimotori oleh Forum Ukhuwah Islamiyyah bersama seluruh Ormas Islam se-Yogjakarta. Mengusung tema doa bersama dan aksi solidaritas Muslim Uyghur, aksi cara difokuskan di Titik Nol Kilometer, Jogja. Acara tersebut digelar sejak pukul 13.00 WIB.

Di Makassar aksi bertajuk Bebaskan Uighur Berislam diawali dengan shalat Jumat di Masjid Al Markaz Al Islami, Makkasar. Ratusan peserta kemudian melakukan longmarch menuju Kantor DPRD Sulawesi Selatan.

Masyarakat Poso juga tak ketinggalan. Aksi Solidaritas Poso untuk Muslim Uighur digelar Aliansi Masyarakat Poso Peduli Uighur di depan kantor DPRD Kota Poso, Sulawesi Tengah. Aksi tersebut diwarnai dengan pembakaran bendera negara Cina

Aksi serupa rencananya akan berlangsung pekan depan. Informasi yang diterima Kiblat menyebutkan aksi bela Uighur akan dilaksanakan di Jalan Pahlawan, Depan Kantor Gubernur Provinsi Jateng, Semarang dan di Masjid An Nur Sawitan, Borobudur, Magelang pada Jumat (28/12/2018) mendatang.(Kiblat)
Diberdayakan oleh Blogger.