"Apa hak yang dia harus menghentikan seruan untuk shalat? Pengacara China itu telah arogan menulis keberatan kepada perdana menteri dan mengutip hak asasi manusia untuk membenarkan permintaan tersebut," kata pesan teks tersebut.
Pengacara itu, bagaimanapun, tidak disebutkan dalam isi pesan singkat.Pesan singkat itu menambahkan bahwa masjid tersebut, yang terletak di dekat area pembangunan komersial baru yang disebut Bangsar Selatan, pertama kali dibuka 30 tahun yang lalu, sedangkan sang pengacara China baru pindah ke lingkungan mayoritas Melayu itu sekitar setahun yang lalu.
Pantai Dalam dulu didominasi oleh para pendatang dan flat murah tapi telah melihat pembangunan dari apartemen mewah dan properti komersial dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, seorang pejabat dari kelompok kesejahteraan Muslim Pekida menegaskan bahwa kelompok tersebut akan memimpin protes di luar masjid setelah klaim bahwa masjid telah dipaksa untuk menonaktifkan loudspeaker selama dua minggu.
"kejadian tersebut sudah berlangsung selama dua minggu sejak masjid dipaksa untuk matikan loudspeaker untuk mengumandangkan adzan dan warga bertanya-tanya apa yang terjadi. Kemudian mereka menemukan bahwa hal itu terjadi karena tekanan dari pengacara China," kata Rahimuddin Harun dari Majlis Pekida Ayahanda Kuala Lumpur atau dewan tetua.
"Hal ini seharusnya tidak terjadi karena rumahnya berjarak sekitar satu kilometer dari masjid, tetapi masjid dipaksa untuk menyerah pada permintaan tersebut, karena ia telah menulis surat kepada semua orang," katanya kepada The Malaysia Insider.
Panggilan adzan bagi Muslim untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari pertama kali menjadi isu politik di tahun 2008, ketika Eksekutif Councillor Selangor Teresa Kok ditahan di bawah Internal Security Act (ISA) karena diduga meminta sebuah masjid Puchong untuk menghentikan panggilan adzan dari pengeras suara tersebut. (aa/TM)
Posting Komentar